Jurnal Pelopor — Semangat gotong royong masyarakat Aceh kembali membuktikan kekuatannya. Setelah hampir setahun terputus akibat longsor yang dipicu bencana hidrometeorologi, Jalan dan Jembatan Enang-Enang di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, akhirnya kembali dapat dilalui. Uniknya, perbaikan jalur vital tersebut tidak menggunakan dana pemerintah, melainkan hasil swadaya masyarakat yang berhasil mengumpulkan dana hingga Rp1 miliar.
Pembukaan kembali akses yang menjadi pintu gerbang menuju Dataran Tinggi Gayo itu berlangsung penuh haru. Ratusan warga memadati lokasi peresmian, sementara inisiator gerakan swadaya, Sahrial Abadi, tak mampu menahan air mata saat menyampaikan sambutannya. Momen tersebut menjadi simbol kemenangan masyarakat yang memilih bergerak sendiri setelah lama menanti perbaikan dari pemerintah.
Hampir Setahun Terisolasi
Jalan Enang-Enang merupakan salah satu jalur strategis yang menghubungkan wilayah Dataran Tinggi Gayo dengan kawasan pesisir Aceh. Namun, sejak bencana hidrometeorologi melanda Aceh pada November tahun lalu, ruas jalan beserta jembatan di kawasan tersebut tertutup longsor dan tidak dapat dilalui kendaraan.
Selama berbulan-bulan masyarakat harus menggunakan jalur alternatif Simpang Lancang–Wih Porak yang dinilai lebih jauh dan menyulitkan aktivitas ekonomi maupun mobilitas warga.
Merasa akses vital tak kunjung diperbaiki, masyarakat akhirnya berinisiatif menggalang dana secara mandiri untuk memperbaiki jalan tersebut.
Dana Swadaya Tembus Rp1 Miliar
Gerakan swadaya itu mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Dalam waktu relatif singkat, donasi yang terkumpul mencapai sekitar Rp1 miliar.
Menurut Sahrial Abadi, dana tersebut sepenuhnya berasal dari masyarakat tanpa melibatkan anggaran pemerintah, baik APBN, APBA maupun APBK.
Dari total dana yang terkumpul, sekitar Rp526 juta telah digunakan untuk proses pengaspalan jalan serta perbaikan jembatan. Sementara sisa dana sekitar Rp555 juta akan dimanfaatkan untuk pembangunan dinding penahan jalan, tempat ibadah, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya.
Keberhasilan penggalangan dana ini menunjukkan tingginya kepedulian masyarakat terhadap infrastruktur yang menjadi urat nadi perekonomian kawasan Gayo.
Tangis Haru Warnai Peresmian
Prosesi pembukaan kembali jalan berlangsung sederhana namun sarat makna. Didampingi ulama kharismatik Aceh, Tengku Muhammad Yusuf Nasir atau yang dikenal sebagai Abiya Jeunib, warga melakukan pemotongan pita sebagai tanda resmi dibukanya kembali jalur tersebut.
Suasana haru begitu terasa. Lantunan doa dan gema selawat mengiringi prosesi peresmian, sementara ratusan warga yang hadir tampak antusias menyambut kembali berfungsinya akses utama menuju Dataran Tinggi Gayo.
Di tengah acara, Sahrial beberapa kali mengusap air mata. Baginya, keberhasilan ini bukan sekadar selesainya pembangunan jalan, melainkan bukti bahwa persatuan masyarakat mampu menghadirkan solusi ketika harapan kepada pemerintah mulai memudar.
Berawal dari Satu Ekskavator
Gerakan perbaikan Jalan Enang-Enang dimulai pada 26 Mei 2026. Saat itu masyarakat menyewa satu unit ekskavator menggunakan dana hasil patungan untuk membersihkan material longsor dan membuka kembali akses jalan.
Langkah tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan gotong royong yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Bantuan terus berdatangan hingga proses pembangunan dapat diselesaikan dalam waktu relatif singkat.
Bagi masyarakat Gayo, dibukanya kembali Jalan Enang-Enang bukan hanya memulihkan konektivitas wilayah, tetapi juga menjadi simbol kuat bahwa semangat kebersamaan dan gotong royong masih menjadi kekuatan utama dalam menghadapi berbagai persoalan. Kisah ini sekaligus menjadi bukti bahwa solidaritas masyarakat mampu melahirkan perubahan nyata ketika kebutuhan mendesak belum terpenuhi.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:
https://youtu.be/Jg8rOFS8ahc?si=X_ER38dgG4saCX_v







