Jurnal Pelopor – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin (2/11/2026). Mata uang Garuda berada di level Rp18.155 per dolar AS atau turun 8 poin setara 0,04 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan terhadap mayoritas mata uang Asia yang juga bergerak melemah terhadap dolar AS. Kondisi tersebut menunjukkan penguatan dolar masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan mata uang kawasan.
Sejumlah mata uang Asia yang mengalami pelemahan antara lain yuan China sebesar 0,01 persen, peso Filipina 0,02 persen, serta ringgit Malaysia yang terkoreksi 0,20 persen.
Tekanan juga dialami dolar Singapura yang melemah 0,07 persen, yen Jepang turun 0,18 persen, won Korea Selatan terdepresiasi 0,35 persen, dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,01 persen.
Mata Uang Asia Kompak Melemah
Berbeda dengan mayoritas mata uang Asia, pergerakan mata uang utama negara maju justru berlangsung bervariasi.
Euro Eropa tercatat menguat 0,10 persen terhadap dolar AS. Penguatan tipis juga dialami dolar Australia dan dolar Kanada yang masing-masing naik 0,01 persen. Sementara itu, franc Swiss terapresiasi 0,01 persen.
Sebaliknya, poundsterling Inggris mengalami pelemahan sebesar 0,03 persen terhadap dolar AS.
Investor Menunggu Data Inflasi dan Perdagangan
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah bergerak relatif datar pada awal perdagangan. Menurutnya, pelaku pasar masih mencermati sejumlah data ekonomi domestik yang dijadwalkan dirilis pada Senin siang.
Data tersebut di antaranya berkaitan dengan inflasi dan neraca perdagangan Indonesia.
“Rupiah diperkirakan dibuka datar, dengan investor menantikan serentetan data ekonomi domestik siang ini, di antaranya inflasi dan perdagangan,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (2/11/2026).
Selain perkembangan ekonomi dalam negeri, pergerakan harga minyak mentah dunia juga menjadi perhatian pasar.
Lukman menilai penurunan harga minyak mentah dunia di tengah harapan berlangsungnya perundingan damai untuk mengakhiri perang Amerika Serikat dan Iran berpotensi memberikan sentimen positif bagi rupiah.
Namun, kondisi pasar keuangan domestik masih menghadapi tekanan akibat aksi jual investor asing di pasar saham.
“Harga minyak mentah dunia yang turun seiring harapan perundingan damai untuk mengakhiri perang AS-Iran dapat mendukung rupiah. Namun, sentimen domestik umumnya masih lemah akibat aksi jual investor asing di pasar ekuitas,” jelasnya.
Rupiah Diprediksi Bergerak di Kisaran Rp18.100–Rp18.200
Melihat berbagai sentimen tersebut, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam rentang Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS sepanjang perdagangan Senin (2/11/2026).
Pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan data ekonomi domestik, terutama inflasi dan neraca perdagangan, serta dinamika pasar global yang berpotensi memengaruhi pergerakan mata uang Garuda.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







