Jurnal Pelopor — Tahun ajaran baru 2026 menjadi tantangan bagi sejumlah sekolah negeri di berbagai daerah di Indonesia. Alih-alih menerima banyak peserta didik baru, sejumlah sekolah justru mengalami kekurangan murid, bahkan ada yang hanya memperoleh satu hingga dua siswa dalam proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Fenomena ini terjadi di berbagai wilayah, mulai dari Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, hingga Jawa Timur. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai penyebab menurunnya minat masyarakat terhadap sebagian sekolah negeri.
Sejumlah Daerah Alami Kekurangan Murid
Di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, sedikitnya empat sekolah dilaporkan sepi peminat pada tahun ajaran baru.
Situasi serupa juga terjadi di Kota Yogyakarta, di mana sekolah negeri disebut kekurangan hampir 1.000 peserta didik baru.
Sementara di Kota Semarang, beberapa sekolah dasar negeri seperti SDN Wonodri dan SDN Purwoyoso I hanya menerima kurang dari 10 murid baru. Kondisi yang sama juga dilaporkan terjadi di sejumlah sekolah negeri di Bali dan Jawa Timur.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan tidak hanya terjadi di satu daerah, melainkan telah menjadi perhatian di berbagai wilayah Indonesia.
Persepsi Kualitas Sekolah Masih Jadi Pertimbangan
Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia, Ubaid Matraji, menilai rendahnya jumlah pendaftar di sejumlah sekolah negeri tidak lepas dari persepsi masyarakat mengenai kualitas pendidikan yang belum merata.
Menurutnya, orang tua cenderung memilih sekolah yang dianggap memiliki mutu pembelajaran lebih baik, fasilitas lebih lengkap, serta mampu memberikan peluang yang lebih besar bagi masa depan anak.
“Ketika mereka melihat sebuah sekolah negeri mutunya dibiarkan merana, mereka akan menghindarinya,” ujar Ubaid.
Persepsi tersebut membuat sebagian sekolah menjadi favorit, sementara sekolah lain justru kehilangan calon peserta didik.
Sarana dan Guru Masih Menjadi Tantangan
Selain persoalan citra sekolah, Ubaid menilai masih banyak sekolah negeri yang menghadapi berbagai keterbatasan dalam penyelenggaraan pendidikan.
Beberapa di antaranya adalah kondisi sarana dan prasarana yang belum memadai, keterbatasan tenaga pendidik berkualitas, hingga minimnya inovasi dalam proses pembelajaran.
Ketimpangan tersebut dinilai turut memengaruhi kepercayaan masyarakat dalam menentukan pilihan sekolah bagi anak-anak mereka.
Dampak Penurunan Jumlah Anak Usia Sekolah
Selain faktor kualitas, sejumlah pengamat pendidikan juga menilai berkurangnya jumlah anak usia sekolah di beberapa daerah menjadi salah satu penyebab sekolah mengalami kekurangan murid.
Perubahan struktur demografi, urbanisasi, hingga perpindahan penduduk ke wilayah lain membuat jumlah calon peserta didik di sejumlah daerah mengalami penurunan dari tahun ke tahun.
Akibatnya, sekolah yang sebelumnya memiliki jumlah siswa cukup kini harus bersaing lebih ketat untuk mendapatkan peserta didik baru.
Pemerataan Mutu Jadi Kunci
Fenomena sekolah negeri yang sepi peminat menjadi sinyal perlunya pemerataan kualitas pendidikan di seluruh daerah.
Peningkatan kualitas guru, pembenahan fasilitas belajar, penguatan kepemimpinan sekolah, serta inovasi pembelajaran dinilai menjadi langkah penting agar seluruh sekolah negeri memiliki daya saing yang setara.
Selain itu, transparansi informasi mengenai prestasi dan perkembangan sekolah juga diperlukan agar masyarakat dapat menilai kualitas sekolah secara objektif, bukan semata berdasarkan reputasi yang telah lama terbentuk.
Dengan pemerataan mutu pendidikan, diharapkan tidak lagi terjadi kesenjangan antara sekolah favorit dan sekolah nonfavorit. Seluruh peserta didik pun memiliki kesempatan memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas, tanpa bergantung pada lokasi maupun popularitas sekolah.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:
https://youtu.be/Jg8rOFS8ahc?si=X_ER38dgG4saCX_v







