Jurnal Pelopor – Jakarta selama ini dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi dan konsumsi terbesar di Indonesia. Namun, data terbaru Bank Indonesia (BI) menunjukkan pertumbuhan penjualan eceran di Ibu Kota justru tertinggal dibandingkan sejumlah kota besar lainnya.
Pada Juni 2026, penjualan eceran di Manado tumbuh 17,2 persen secara tahunan, sedangkan Medan mencatat pertumbuhan 6,6 persen. Sementara itu, Jakarta masih menunjukkan kinerja yang relatif lemah.
Berdasarkan prakiraan BI untuk Juli 2026, penjualan eceran di Manado bahkan diperkirakan tumbuh 24,7 persen secara tahunan. Medan menyusul dengan pertumbuhan 15,6 persen, Bandung 9,8 persen, dan Denpasar 7,6 persen.
Adapun Jakarta hanya diprakirakan tumbuh 1,6 persen secara tahunan. Perbedaan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai perubahan pola konsumsi masyarakat di Indonesia. Apakah aktivitas belanja mulai bergeser dari pusat ekonomi tradisional seperti Jakarta ke kota-kota lain?
Penjualan Ritel Nasional Masih Tertekan
Meski sejumlah daerah menunjukkan pertumbuhan tinggi, kondisi penjualan eceran secara nasional belum sepenuhnya pulih. BI mencatat Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2026 sebesar 225,0, atau mengalami kontraksi 3,0 persen secara tahunan. Angka tersebut memang masih berada di zona negatif, tetapi menunjukkan perbaikan dibandingkan Mei 2026 yang mengalami kontraksi 3,9 persen secara tahunan.
Jika dibandingkan secara bulanan, kinerjanya bahkan mulai membaik. Penjualan eceran Juni 2026 tumbuh 0,7 persen dibandingkan bulan sebelumnya, setelah pada Mei mengalami kontraksi 1,5 persen. Perbaikan tersebut menunjukkan adanya pemulihan aktivitas konsumsi masyarakat, meskipun belum cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan tahunan ke zona positif.
Sejumlah Sektor Mulai Menguat
BI mencatat pertumbuhan bulanan terjadi pada sejumlah kelompok barang. Penjualan kelompok barang lainnya meningkat 6,9 persen, diikuti suku cadang dan aksesori yang tumbuh 3,7 persen serta perlengkapan rumah tangga lainnya sebesar 2,8 persen.
Penjualan bahan bakar kendaraan bermotor juga mengalami pertumbuhan sebesar 3,5 persen. Sementara kelompok makanan, minuman, dan tembakau tumbuh lebih tipis, yakni 0,1 persen.
Menurut BI, peningkatan tersebut turut dipengaruhi oleh terjaganya permintaan masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) serta libur sekolah. Namun, peningkatan secara bulanan tersebut belum mampu menghapus tekanan jika dibandingkan dengan kondisi pada tahun sebelumnya.
Mengapa Manado Bisa Tumbuh Lebih Tinggi?
Tingginya pertumbuhan penjualan eceran di Manado dan Medan tidak serta-merta berarti kedua kota tersebut telah menggantikan Jakarta sebagai pusat konsumsi nasional.
Pertumbuhan tahunan menunjukkan perubahan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, bukan ukuran mutlak besarnya konsumsi. Dengan kata lain, kota dengan basis penjualan yang lebih kecil dapat mencatat pertumbuhan persentase yang jauh lebih tinggi ketika aktivitas ekonominya meningkat.
Sebaliknya, Jakarta memiliki basis konsumsi yang sangat besar. Karena itu, pertumbuhan persentasenya bisa terlihat lebih rendah meskipun nilai transaksi yang terjadi tetap jauh lebih besar.
Faktor lain seperti pemulihan aktivitas ekonomi daerah, pariwisata, mobilitas masyarakat, pembangunan kawasan komersial, serta perubahan pola belanja juga dapat memengaruhi perbedaan pertumbuhan antarwilayah.
Apakah Peta Konsumsi Indonesia Benar-Benar Bergeser?
Data tersebut memang memberikan indikasi bahwa pertumbuhan konsumsi tidak lagi hanya terkonsentrasi di Jakarta. Kota-kota seperti Manado, Medan, Bandung, dan Denpasar menunjukkan dinamika konsumsi yang cukup kuat. Pertumbuhan tersebut dapat menjadi gambaran semakin berkembangnya pusat-pusat ekonomi baru di luar Jakarta.
Namun, terlalu dini jika data ini langsung diartikan bahwa Jakarta kehilangan posisi sebagai pusat konsumsi Indonesia. Yang lebih tepat adalah melihatnya sebagai indikasi bahwa pertumbuhan konsumsi mulai semakin tersebar ke berbagai daerah.
Jakarta tetap memiliki basis ekonomi dan konsumen yang sangat besar. Sementara kota-kota lain mulai menunjukkan pertumbuhan yang lebih cepat.
Dengan demikian, perubahan yang terjadi kemungkinan bukan sekadar perpindahan pusat konsumsi, melainkan pergeseran dari konsumsi yang sangat terkonsentrasi menuju pertumbuhan yang semakin tersebar secara regional.
Jika tren tersebut berlangsung dalam jangka panjang, perkembangan ekonomi daerah berpotensi semakin menentukan arah konsumsi nasional.
Sumber: Bank Indonesia, Kompas.com
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







