Jurnal Pelopor – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan semakin mengkhawatirkan. Di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalteng, pemerintah daerah memperpanjang status tanggap darurat karhutla setelah ratusan kejadian tercatat dengan luas lahan terbakar mencapai sekitar 859 hektare. Sementara itu, kabut asap dilaporkan semakin pekat di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan hingga mengganggu jarak pandang warga.
Status Tanggap Darurat Kobar Diperpanjang
Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat memperpanjang status tanggap darurat bencana karhutla selama dua pekan. Perpanjangan tersebut berlaku mulai 21 Agustus hingga 4 September 2026.
Keputusan itu diambil setelah melihat kondisi karhutla yang masih mengancam sejumlah wilayah. Hingga Selasa (18/8/2026), tercatat sebanyak 189 kejadian karhutla dengan total luas lahan yang terbakar mencapai 859,490 hektare.
Bupati Kobar Nurhidayah menyebut ancaman kebakaran masih tinggi. Cuaca panas yang belum mereda membuat vegetasi dan lahan di sejumlah lokasi menjadi mudah terbakar.
Penanganan di lapangan juga masih menghadapi berbagai kendala sehingga pemerintah daerah memilih memperpanjang status tanggap darurat sebagai langkah untuk memperkuat penanganan dan pencegahan.
Kabut Asap Ganggu Jarak Pandang

Di sisi lain, dampak karhutla mulai semakin terasa di Kalimantan Selatan. Kabut asap dilaporkan menyelimuti kawasan Sungai Tabuk pada Rabu (19/8/2026).
Kondisi tersebut membuat jarak pandang warga disebut sangat terbatas, bahkan hanya sekitar 1–2 meter di sejumlah titik. Tebalnya kabut asap juga mengganggu aktivitas masyarakat, terutama pengguna kendaraan yang harus melintas di tengah kondisi jalan dengan jarak pandang terbatas.
Kabut asap juga dilaporkan muncul di kawasan Liang Anggang, Banjarbaru, pada Rabu pagi. Kondisi ini membuat sejumlah kawasan tampak diselimuti asap dan warga diminta meningkatkan kewaspadaan ketika beraktivitas di luar rumah.
Warga Diminta Waspada
Selain mengganggu jarak pandang, kabut asap akibat karhutla juga dapat berdampak terhadap kesehatan. Paparan asap dalam waktu tertentu berisiko memicu gangguan pernapasan, iritasi tenggorokan, hingga memperburuk kondisi penderita asma.
Masyarakat diimbau menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah. Warga juga disarankan memperbanyak konsumsi air putih dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara semakin memburuk.
Pengguna kendaraan, khususnya pengendara sepeda motor, juga diminta lebih berhati-hati. Jarak pandang yang sangat terbatas dapat meningkatkan risiko kecelakaan, sehingga pengendara sebaiknya mengurangi kecepatan dan menyalakan lampu kendaraan.
Meluasnya karhutla dan munculnya kabut asap menjadi pengingat bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan membutuhkan kewaspadaan bersama. Pemerintah terus melakukan penanganan di lapangan, sementara masyarakat diharapkan ikut mencegah munculnya titik api baru.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:






