Jurnal Pelopor – Daya beli petani hortikultura, khususnya yang bergerak di sektor sayuran dan buah-buahan, mengalami tekanan pada Agustus 2026. Kondisi tersebut tercermin dari penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) subsektor hortikultura yang menjadi satu-satunya subsektor yang mengalami penurunan pada periode tersebut.
Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengatakan, penurunan NTP hortikultura kemungkinan dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Selain kondisi cuaca, tingginya produksi sejumlah komoditas juga dapat membuat harga di tingkat petani mengalami penurunan.
NTP Nasional Justru Mengalami Kenaikan
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), NTP nasional pada Agustus 2026 mencapai 129,19, meningkat 1,05 persen dibandingkan Juli 2026. Kenaikan tersebut terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) meningkat lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar petani (Ib). Indeks harga yang diterima petani tercatat naik 1,14 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani hanya meningkat 0,09 persen.
Namun, tren positif tersebut tidak terjadi pada seluruh subsektor pertanian. NTP hortikultura justru turun 2,84 persen pada Agustus 2026. Penurunan terutama dipengaruhi oleh indeks harga yang diterima petani hortikultura yang turun 2,81 persen. Sementara itu, indeks harga yang dibayar petani masih mengalami kenaikan sebesar 0,03 persen.
Produksi Melimpah Bisa Tekan Harga
Amran mengatakan, salah satu persoalan yang dapat menekan daya beli petani adalah ketika produksi komoditas tertentu mengalami surplus. Produksi yang melimpah sementara permintaan pasar tidak meningkat secara seimbang dapat membuat harga komoditas di tingkat petani jatuh. Kondisi tersebut kemudian berdampak langsung terhadap pendapatan petani dan tercermin dalam penurunan NTP.
Bawang merah menjadi salah satu contoh komoditas yang mengalami kondisi tersebut. Menurut Amran, produksi bawang merah yang cukup tinggi dapat menyebabkan pasokan berlebih sehingga harga turun.
Selain itu, faktor cuaca juga menjadi perhatian. Kondisi kemarau dapat memberikan tekanan terhadap sejumlah komoditas hortikultura, termasuk cabai dan sayuran.
Cold Storage Dinilai Jadi Salah Satu Solusi
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah menilai diperlukan solusi yang bersifat jangka panjang. Salah satu yang dianggap penting adalah memperkuat fasilitas penyimpanan hasil pertanian atau cold storage.
Fasilitas tersebut dapat membantu menyimpan komoditas yang mudah rusak ketika produksi sedang melimpah. Dengan begitu, petani tidak harus menjual seluruh hasil panen dalam waktu bersamaan ketika harga sedang rendah.
“Sayur-sayuran, cabai, bawang merah, dan segala macam. Nah bisa jadi bawang merah kan surplus, produksinya cukup tinggi sehingga turun, dan pada gilirannya NTP-nya turun,” ujar Amran.
Penguatan fasilitas penyimpanan juga diharapkan dapat memberikan ruang bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk mengatur distribusi komoditas secara lebih baik, terutama ketika terjadi kelebihan pasokan di suatu wilayah.
Anggaran Hortikultura Bakal Ditambah
Pemerintah juga berencana meningkatkan perhatian terhadap subsektor hortikultura pada 2027. Amran mengatakan, anggaran untuk hortikultura tahun depan akan ditingkatkan hampir dua kali lipat. Kebijakan tersebut dilakukan setelah pemerintah sebelumnya lebih banyak memberikan perhatian terhadap sektor pangan, peternakan, dan perkebunan.
Menurut Amran, pembangunan sektor pertanian perlu dilakukan secara bertahap agar persoalan di masing-masing subsektor dapat ditangani secara lebih optimal.
Peningkatan anggaran diharapkan dapat membantu mengatasi berbagai persoalan hortikultura, mulai dari produksi, distribusi, fasilitas penyimpanan hingga stabilisasi harga.
Produksi Tinggi Belum Tentu Menjamin Kesejahteraan
Penurunan NTP hortikultura menunjukkan bahwa peningkatan produksi saja belum cukup untuk menjamin kesejahteraan petani. Ketika hasil panen meningkat tetapi tidak diimbangi dengan kemampuan pasar dalam menyerap produksi, harga justru berpotensi mengalami penurunan. Petani akhirnya menghadapi situasi ketika biaya produksi tetap harus dibayar, sementara pendapatan dari hasil panen menurun.
Karena itu, pengelolaan produksi perlu berjalan beriringan dengan penguatan rantai pasok dan pasar.
Pengembangan cold storage, perbaikan distribusi, penguatan akses pasar, serta perencanaan produksi berdasarkan kebutuhan konsumen menjadi sejumlah langkah yang dapat membantu mengurangi risiko anjloknya harga.
Dengan kebijakan yang lebih terintegrasi, peningkatan produktivitas pertanian diharapkan tidak hanya menghasilkan produksi yang lebih besar, tetapi juga memberikan pendapatan yang lebih stabil bagi petani.
Pada akhirnya, keberhasilan sektor hortikultura bukan hanya diukur dari seberapa banyak hasil panen yang dihasilkan, tetapi juga dari kemampuan menjaga agar hasil tersebut memiliki nilai ekonomi yang layak bagi petani.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







