• About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya
Advertisement
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya
No Result
View All Result
Home News Science

Jangan Lewatkan! Ini Fenomena Langit September 2026

September 2026 menghadirkan berbagai fenomena langit menarik, mulai hujan meteor, konjungsi planet, ekuinoks, hingga Harvest Moon.

musa by musa
02/09/2026
in Science
0
langit
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Jurnal Pelopor – Langit Indonesia akan kembali dihiasi berbagai fenomena astronomi sepanjang September 2026. Sejumlah peristiwa menarik dapat diamati dari bumi, mulai dari hujan meteor, kedekatan Bulan dengan planet, fase Bulan baru, ekuinoks, hingga fenomena Bulan purnama yang dikenal sebagai Harvest Moon.

Rangkaian fenomena tersebut sudah dimulai pada awal September. Salah satunya adalah hujan meteor Aurigid yang mencapai puncaknya pada 1 September 2026. Fenomena ini diperkirakan menghasilkan hingga enam meteor per jam dalam kondisi langit yang ideal. Aurigid sendiri aktif sejak 28 Agustus hingga 5 September dan tampak berasal dari arah rasi bintang Auriga.

Beberapa hari kemudian, pengamat langit kembali mendapat kesempatan menikmati fenomena menarik. Pada 6 September, Bulan dan Mars akan tampak berdekatan di langit. Dari wilayah Indonesia, keduanya dapat diamati menjelang waktu fajar. Jupiter juga menjadi salah satu benda langit terang yang dapat terlihat pada waktu tersebut sehingga menciptakan pemandangan menarik di langit pagi.

Selanjutnya, pada 9 September, hujan meteor ε-Perseid diperkirakan mencapai aktivitas maksimumnya. Fenomena ini berpotensi menghasilkan sekitar lima meteor per jam dalam kondisi pengamatan ideal. Waktu kemunculannya cukup menguntungkan karena berdekatan dengan fase Bulan baru, sehingga cahaya Bulan yang biasanya dapat mengganggu pengamatan meteor menjadi lebih minim.

Waktu Terbaik Mengamati Langit

Fase Bulan baru akan berlangsung pada 11 September. Kondisi tersebut membuat langit malam menjadi relatif lebih gelap karena cahaya Bulan sangat sedikit. Situasi ini menjadi kesempatan yang baik bagi pengamat untuk menikmati bintang, gugus bintang, maupun objek langit redup lainnya, terutama jika dilakukan dari wilayah yang jauh dari polusi cahaya perkotaan.

September kemudian ditutup dengan dua fenomena astronomi penting. Pada 23 September akan terjadi ekuinoks, yaitu saat Matahari melintasi bidang ekuator Bumi. Peristiwa ini menandai salah satu titik penting dalam perubahan musim secara astronomis dan menyebabkan durasi siang serta malam di berbagai wilayah Bumi menjadi relatif seimbang.

Di Indonesia, periode ekuinoks juga bertepatan dengan fenomena hari tanpa bayangan. Berdasarkan catatan BMKG, Matahari akan berada tepat di atas wilayah Pontianak pada 23 September 2026 sekitar pukul 11.35 WIB. Pada saat tersebut, benda tegak yang terkena sinar Matahari dapat kehilangan bayangannya untuk sesaat.

Tidak berhenti di sana, pada 26 September Bulan akan mencapai fase purnama. Bulan purnama yang berdekatan dengan ekuinoks September tersebut dikenal dengan sebutan Harvest Moon. Istilah ini berasal dari tradisi masyarakat di belahan bumi utara yang mengaitkannya dengan waktu panen.

Menariknya, sebagian besar fenomena langit September tidak membutuhkan peralatan astronomi khusus. Hujan meteor dan sejumlah fenomena lainnya dapat diamati dengan mata telanjang. Namun, hasil pengamatan akan jauh lebih baik jika dilakukan di tempat dengan kondisi langit cerah, minim awan, dan jauh dari polusi cahaya.

Karena itu, September 2026 dapat menjadi salah satu bulan yang menarik bagi masyarakat yang ingin menikmati keindahan langit malam. Dengan mengetahui jadwal dan waktu kemunculannya, pengamatan dapat dilakukan dengan lebih mudah sekaligus menjadi kesempatan untuk mengenal berbagai fenomena astronomi yang terjadi di sekitar Bumi.

Baca Juga:

Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria

Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah

Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah

Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos

 

Saksikan berita lainnya:

Reformasi atau Langkah Mundur? Pengesahan RUU TNI 2025

5 Skandal Hakim Terbesar di Indonesia! Bisakah Prabowo Bersihkan Peradilan?

Tags: #FenomenaLangit #Astronomi #HujanMeteor #HarvestMoon #September2026 #LangitIndonesia #InfoAstronomi #Sains
Previous Post

Daya Beli Petani Hortikultura Turun, Ini Penyebabnya

Next Post

Terlalu Lama Duduk, Risiko Kanker Bisa Meningkat

musa

musa

Related Posts

duduk
Science

Terlalu Lama Duduk, Risiko Kanker Bisa Meningkat

02/09/2026
roket
Science

RI Siapkan Roket Buatan Sendiri, Target Uji Terbang 2029

26/08/2026
sawit
Science

Tyto Alba, Predator Alami yang Jadi Andalan Perkebunan Sawit

25/08/2026
hewan
Science

Sungai Mara Jadi Medan Hidup-Mati Jutaan Hewan Afrika

25/08/2026
bosan
Science

Anak Bosan? Jangan Selalu Dicarikan Aktivitas, Ini Alasannya

24/08/2026
remaja
Science

Pakar Ingatkan Risiko Remaja Terlalu Bergantung pada AI

05/08/2026
Next Post
duduk

Terlalu Lama Duduk, Risiko Kanker Bisa Meningkat

Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.