Jurnal Pelopor – Konglomerat Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam dikabarkan tengah mengajukan tawaran untuk mengakuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Nilai penawaran yang disebut mencapai US$3 miliar atau sekitar Rp52,7 triliun.
Kabar tersebut mencuat setelah Bloomberg melaporkan adanya tawaran dari Haji Isam untuk mengambil sekitar 62 persen saham BYAN. Jika terealisasi, transaksi tersebut akan menjadi salah satu aksi korporasi besar di sektor pertambangan Indonesia.
Namun, nilai yang ditawarkan disebut masih jauh di bawah kapitalisasi pasar Bayan Resources. Dengan asumsi kurs Rp17.584 per dolar AS, tawaran US$3 miliar setara sekitar Rp52,75 triliun.
Tawaran Awalnya Lebih Tinggi
Dalam proses pembicaraan akuisisi, nilai penawaran awal disebut berada di kisaran US$4,8 miliar. Jika dikonversikan dengan kurs yang sama, nilainya mencapai sekitar Rp84,5 triliun. Meski demikian, angka tersebut tetap jauh lebih rendah dibandingkan nilai pasar BYAN yang dilaporkan hampir mencapai US$26 miliar atau sekitar Rp458 triliun.
Perbedaan tersebut cukup besar karena saham BYAN memiliki karakteristik perdagangan yang berbeda dibandingkan banyak saham lain di pasar modal. Saham yang beredar bebas di publik relatif terbatas, sementara aktivitas transaksinya juga tidak terlalu besar.
Kondisi tersebut dapat membuat harga saham di pasar terlihat tinggi karena jumlah saham yang aktif diperdagangkan relatif sedikit. Karena itu, saham milik konglomerat Low Tuck Kwong tersebut disebut sejak lama berpotensi ditawarkan dengan harga diskon dalam transaksi tertentu.
Prospek Batu Bara Jadi Pertimbangan
Selain persoalan harga, prospek industri batu bara juga menjadi salah satu faktor yang disebut dalam kabar tersebut. Batu bara termal menghadapi tantangan jangka panjang seiring konsumen dan berbagai negara mulai mendorong penggunaan sumber energi yang lebih bersih.
Perubahan arah kebijakan energi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap permintaan batu bara termal dalam jangka panjang. Di dalam negeri, pembatasan atau kuota produksi tambang juga disebut menjadi tantangan bagi pelaku usaha pertambangan.
Situasi tersebut menjadi bagian dari pertimbangan dalam melihat nilai sebuah aset pertambangan. Harga pasar saham tidak selalu mencerminkan nilai transaksi akuisisi secara langsung karena pembeli dan penjual dapat memiliki pertimbangan berbeda.
Belum Ada Konfirmasi
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan dari pihak Haji Isam mengenai kabar penawaran tersebut. Bayan Resources maupun keluarga Low Tuck Kwong juga belum memberikan komentar terkait rumor transaksi tersebut.
Dengan demikian, informasi mengenai rencana akuisisi 62 persen saham BYAN tersebut masih sebatas laporan dan belum mendapat konfirmasi resmi dari pihak-pihak yang disebut. Perkembangan selanjutnya akan menentukan apakah kabar tersebut berujung pada transaksi nyata atau hanya berhenti pada tahap pembicaraan.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







