Jurnal Pelopor – Mengasuh anak pada era modern tidak selalu mudah. Orangtua sering menghadapi dilema ketika menentukan batasan, memberikan bantuan, atau merespons emosi anak.
Sebagian orang bahkan khawatir perhatian dan dukungan yang terlalu besar akan membuat anak menjadi manja. Namun, tidak semua bentuk dukungan dapat dianggap sebagai pola asuh yang memanjakan.
Kebutuhan Anak Perlu Dipahami
Psikolog berlisensi sekaligus instruktur klinis di divisi pediatri dan psikologi perilaku perkembangan Case Western Reserve University, Dr. Sarah Cain Spannagel, PhD, menjelaskan bahwa sejumlah perilaku orangtua yang dianggap memanjakan justru dapat memenuhi kebutuhan perkembangan anak.
Menurutnya, anak yang benar-benar menunjukkan perilaku manja biasanya berkaitan dengan kurangnya batasan yang jelas. Selain itu, orangtua yang selalu menyelamatkan anak dari ketidaknyamanan dan tidak konsisten menerapkan aturan juga dapat berpengaruh.
Karena itu, memberikan dukungan emosional tetap perlu dilakukan. Namun, dukungan tersebut sebaiknya berjalan bersama aturan dan batasan yang sesuai dengan usia anak.
Merespons Tangisan dan Memvalidasi Emosi
Salah satu anggapan yang masih sering muncul adalah orangtua sebaiknya tidak terlalu cepat merespons tangisan bayi. Ada kekhawatiran bahwa terlalu sering menggendong atau menenangkan bayi akan membuatnya terbiasa meminta perhatian.
Namun, menurut Spannagel, merespons tangisan bayi justru dapat membantu membangun rasa aman. Bayi belum mampu mengatur emosinya secara mandiri sehingga membutuhkan pengasuh yang responsif. Respons orangtua juga dapat membantu membangun kepercayaan dan rasa aman dalam hubungan antara anak dengan pengasuhnya.
Menenangkan Anak Bukan Berarti Menuruti Semua Keinginannya
Hal serupa berlaku ketika anak yang lebih besar mengalami tantrum. Orangtua tetap dapat menenangkan anak tanpa harus menghapus batasan yang sudah dibuat.
Menunjukkan empati kepada anak tidak sama dengan membenarkan semua perilakunya. Orangtua dapat membantu anak memahami emosinya sambil tetap mempertahankan aturan.
Menurut Spannagel, anak belum selalu mampu mengatur emosi yang sangat kuat secara mandiri. Karena itu, mereka membutuhkan bantuan orangtua untuk belajar mengelola emosi tersebut.
Memberikan Bantuan Saat Anak Kewalahan
Ketika anak mulai mampu melakukan berbagai aktivitas sendiri, sebagian orangtua mungkin sengaja menghindari memberikan bantuan. Tujuannya agar anak tumbuh mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain.
Namun, kemampuan mandiri tidak berarti anak harus selalu melakukan semuanya sendiri. Ada kondisi ketika anak merasa lelah atau kewalahan dan membutuhkan sedikit bantuan.
Misalnya, anak mungkin kesulitan menjalankan rutinitas pada pagi hari karena terburu-buru. Dalam kondisi seperti itu, orangtua dapat memberikan bantuan secukupnya agar anak dapat menyelesaikan aktivitasnya.
Bantuan Tidak Harus Menghilangkan Kemandirian
Memberikan bantuan kepada anak tidak otomatis membuat mereka malas. Hal yang penting adalah orangtua tetap memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar dan mencoba.
Orangtua dapat menyesuaikan bantuan dengan kondisi anak. Ketika anak sudah mampu mengerjakan tugas tersebut sendiri, bantuan dapat dikurangi secara bertahap.Dengan cara tersebut, anak tetap mendapatkan dukungan tanpa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemandiriannya.
Dukungan dan Batasan Perlu Berjalan Bersama
Pola asuh yang suportif bukan berarti membebaskan anak dari semua kesulitan. Orangtua tetap perlu menetapkan batasan yang jelas dan konsisten. Di sisi lain, anak juga membutuhkan rasa aman, perhatian, serta bantuan ketika menghadapi situasi yang belum mampu mereka atasi sendiri. Keseimbangan antara dukungan emosional, bantuan, kemandirian, dan aturan menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang anak.
Jangan Terjebak pada Label Anak Manja
Perilaku seperti menangis, meminta bantuan, atau membutuhkan orangtua ketika sedang kewalahan tidak selalu menunjukkan bahwa anak manja. Orangtua perlu melihat kebutuhan dan situasi di balik perilaku tersebut. Dengan memahami perkembangan anak, orangtua dapat memberikan respons yang tepat tanpa mengabaikan batasan.
Pada akhirnya, tujuan pengasuhan bukan sekadar membuat anak cepat mandiri. Orangtua juga perlu membantu anak merasa aman, memahami emosinya, serta perlahan belajar menghadapi berbagai situasi secara mandiri.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







