Jurnal Pelopor – Badan Intelijen Negara (BIN) merespons informasi mengenai sejumlah warga negara Indonesia (WNI) yang diduga menjadi target perekrutan untuk bergabung dengan militer Rusia. Informasi tersebut mencuat setelah otoritas intelijen Ukraina menyebut delapan WNI telah direkrut Rusia untuk terlibat dalam perang melawan Ukraina.
Kepala BIN Muhammad Herindra mengatakan pihaknya akan mendalami informasi tersebut. BIN juga memastikan isu mengenai perekrutan WNI menjadi tentara asing mendapat perhatian serius dari lembaga intelijen Indonesia.
“Entar kita dalemin lebih lanjut ya,” ujar Herindra di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Saat ditanya apakah informasi tersebut menjadi perhatian BIN, Herindra memberikan jawaban tegas.
“Pastilah,” katanya.
Meski demikian, Herindra belum memberikan penjelasan lebih rinci mengenai jumlah WNI yang diduga menjadi sasaran perekrutan. Ia juga belum mengungkap apakah terdapat WNI lain di luar delapan nama yang telah disebut dalam informasi intelijen Ukraina.
WNI Diduga Direkrut dengan Modus Tawaran Pekerjaan
Informasi mengenai modus perekrutan sebelumnya disampaikan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad. Ia mengatakan sejumlah WNI diduga direkrut dengan cara ditawari pekerjaan yang terlihat seperti pekerjaan sipil.
Menurut Dasco, tawaran tersebut antara lain berupa pekerjaan sebagai satuan pengamanan atau satpam serta tenaga administrasi. Para calon pekerja disebut dijanjikan penghasilan yang besar sehingga tertarik untuk mendaftarkan diri.
Namun, setelah mengikuti proses perekrutan, mereka diduga justru dikirim untuk bergabung dengan militer Rusia.
“Jadi kami mendapatkan informasi dari otoritas intelijen kita bahwa perekrutan tentara itu kemudian dilakukan oleh negara pihak ketiga, yang kemudian membuat seolah-olah itu adalah lowongan satuan pengamanan ataupun kemudian tenaga administrasi yang diiming-imingi oleh gaji yang besar,” kata Dasco di Kompleks Parlemen, Selasa (1/9/2026).
Menurut informasi yang diterima DPR, WNI yang tertarik dengan tawaran tersebut mendaftarkan diri melalui lowongan pekerjaan yang tersedia. Mereka kemudian diduga dikirim ke Rusia dan diarahkan untuk menjadi tentara.
“Nah, para WNI ini kemudian mendaftar, lalu kemudian dari situ akhirnya dikirim untuk menjadi tentara. Begitu informasi yang kami dapat,” ujar Dasco.
Pemerintah Disebut Sudah Melakukan Antisipasi
Dasco mengatakan pemerintah Indonesia telah melakukan langkah antisipasi untuk mencegah semakin banyak WNI menjadi korban perekrutan dengan modus serupa. Otoritas intelijen Indonesia disebut telah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri. Pemerintah juga disebut mengirimkan utusan ke sejumlah negara yang berkaitan dengan proses perekrutan tersebut.
“Dan pada saat ini, otoritas intelijen dan Kementerian Luar Negeri sudah melakukan antisipasi, berkoordinasi, dan kemudian mengirimkan utusan kepada negara-negara tersebut,” kata Dasco.
Langkah tersebut dilakukan untuk memperoleh informasi lebih lanjut sekaligus mengantisipasi kemungkinan adanya perekrutan WNI lainnya.
Ukraina Sebut Ada Delapan WNI
Informasi mengenai delapan WNI yang diduga direkrut Rusia sebelumnya diungkap oleh Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina atau SZRU. Dalam keterangannya, SZRU menyebut Rusia terus berupaya merekrut warga negara asing untuk terlibat dalam perang melawan Ukraina. Indonesia disebut sebagai salah satu negara yang menjadi sasaran perekrutan tersebut.
SZRU juga menyatakan bahwa warga Indonesia diduga dicari untuk dikirim ke medan perang. Namun, informasi tersebut masih menjadi bagian dari laporan intelijen Ukraina dan kini tengah didalami oleh otoritas Indonesia.
Delapan WNI yang disebut dalam dokumen SZRU adalah Erwanda, lahir 5 Agustus 1988; Muhammad Syaripudin, lahir 3 Agustus 1994; Putra Pratama Yuda, lahir 9 Agustus 1997; Hudri Fadli Ngangun, lahir 17 September 1978; M. Hadi Maulana, lahir 7 April 1987; Dwi Kencana Haryanto, lahir 14 Juli 1983; Wahyu Oktavian Iskandar, lahir 22 Oktober 1985; serta Helmi Hakim Nugraha, lahir 27 November 1983.
BIN Masih Dalami Informasi
Dengan adanya informasi dari berbagai pihak tersebut, BIN kini melakukan pendalaman untuk memastikan kondisi sebenarnya. Pemerintah juga perlu memastikan apakah delapan WNI tersebut memang direkrut melalui modus tawaran pekerjaan sebagaimana informasi yang disampaikan DPR.
Selain itu, pendalaman diperlukan untuk mengetahui apakah masih terdapat WNI lain yang menjadi target perekrutan maupun apakah proses perekrutan tersebut masih berlangsung.
BIN belum menyampaikan hasil penyelidikan lebih lanjut mengenai keberadaan maupun kondisi delapan WNI yang disebut dalam laporan tersebut.
Pemerintah Indonesia sendiri telah menunjukkan perhatian terhadap informasi perekrutan tersebut. Koordinasi antara lembaga intelijen dan Kementerian Luar Negeri menjadi bagian dari upaya untuk mencegah WNI terjebak dalam perekrutan yang berujung pada keterlibatan dalam konflik bersenjata di luar negeri.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







