Jurnal Pelopor — Ribuan warga memadati jalanan pusat kota London dalam demonstrasi besar bertajuk “Unite the Kingdom” yang digelar akhir pekan lalu. Aksi tersebut menjadi sorotan karena dipenuhi seruan keras soal imigrasi, identitas nasional, hingga kritik terhadap pemerintahan Keir Starmer.
Demonstrasi yang berlangsung di kawasan Parliament Square itu diikuti puluhan ribu peserta dari berbagai kelompok konservatif dan sayap kanan. Meski penyelenggara mengklaim aksi ini tidak terafiliasi dengan partai politik tertentu, banyak peserta terlihat mengenakan atribut warna turquoise yang identik dengan Reform UK.
Isu Imigran Jadi Sorotan Utama
Salah satu tema paling dominan dalam aksi tersebut adalah penolakan terhadap tingginya angka imigrasi di Inggris. Beberapa peserta bahkan menyerukan agar jutaan imigran meninggalkan negara itu.
“Mereka seharusnya tidak berada di negara ini,” ujar salah satu peserta aksi bernama Pete dalam orasinya.
Pernyataan tersebut langsung memicu kontroversi karena dianggap bernada anti-imigran dan memperuncing ketegangan sosial di Inggris yang belakangan memang sedang menghadapi tekanan ekonomi dan politik.
Banyak peserta demonstrasi menilai sistem tunjangan sosial di Inggris terlalu membebani negara dan diklaim dimanfaatkan oleh pendatang. Narasi seperti ini semakin sering muncul dalam wacana politik Inggris beberapa tahun terakhir.
Tommy Robinson Serukan “Pertempuran Britania”
Tokoh sayap kanan Tommy Robinson menjadi salah satu figur paling disorot dalam demonstrasi tersebut. Dalam pidatonya di depan massa, ia menyerukan agar para pendukung mulai aktif secara politik menjelang pemilu berikutnya.
“Apakah kalian siap untuk Pertempuran Britania?” seru Robinson kepada massa.
Ia juga memperingatkan bahwa Inggris bisa “kehilangan negaranya” jika masyarakat konservatif tidak bergerak lebih aktif menghadapi perubahan politik dan sosial yang terjadi saat ini.
Kehadiran Robinson membuat demo ini semakin mendapat perhatian luas karena sosoknya selama ini dikenal kontroversial dan sering dikaitkan dengan gerakan nasionalis kanan keras di Inggris.
Reform UK Makin Menguat
Demonstrasi “Unite the Kingdom” terjadi di tengah meningkatnya popularitas Reform UK yang dipimpin Nigel Farage. Partai tersebut baru saja mencatat hasil kuat dalam pemilihan lokal dan mulai menjadi ancaman serius bagi Partai Buruh.
Farage sendiri dikenal sebagai arsitek utama Brexit dan sekutu politik Donald Trump. Dukungan terhadap Reform UK meningkat seiring keresahan publik terkait ekonomi, migrasi, dan biaya hidup di Inggris.
Sementara itu, pemerintahan Keir Starmer terus menghadapi tekanan politik meski pemilu nasional baru dijadwalkan berlangsung pada 2029. Seruan agar Starmer mundur mulai semakin sering terdengar di berbagai kelompok oposisi.
Polisi Lakukan Pengamanan Besar
Aksi besar tersebut mendapat pengawalan ketat dari Metropolitan Police. Polisi mengerahkan operasi pengamanan besar karena khawatir terjadi bentrokan dengan demonstrasi pro-Palestina yang berlangsung di lokasi lain di London pada hari yang sama.
Setelah aksi berakhir, pihak kepolisian mengonfirmasi telah melakukan 11 penangkapan terkait berbagai pelanggaran hukum selama demonstrasi berlangsung.
Meski tidak berubah menjadi kerusuhan besar, demonstrasi “Unite the Kingdom” menunjukkan bahwa tensi politik dan sosial di Inggris kini semakin memanas. Isu imigrasi, ekonomi, dan identitas nasional diperkirakan masih akan menjadi topik utama menjelang pemilu mendatang.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:
https://youtu.be/Jg8rOFS8ahc?si=X_ER38dgG4saCX_v






