Jurnal Pelopor – Kasus bayi yang diberi makanan pendamping ASI (MPASI) secara paksa dan terlalu dini menjadi sorotan di media sosial. Praktik pemberian makanan kepada bayi yang masih berusia sangat muda, seperti dua minggu atau dua bulan, hingga pemberian sagu bertekstur kental, menuai kecaman karena berisiko membahayakan kesehatan bayi.
Pemberian MPASI tidak boleh dilakukan sembarangan. Bayi membutuhkan waktu untuk mengembangkan kemampuan menelan, kesiapan motorik mulut, serta sistem pencernaan yang memadai. Karena itu, orang tua perlu memahami kapan waktu yang tepat untuk mengenalkan makanan pendamping ASI dan bagaimana cara memberikannya dengan aman.
MPASI Idealnya Dimulai Saat Bayi Berusia 6 Bulan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Setelah memasuki usia enam bulan, bayi mulai membutuhkan makanan pendamping ASI untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang semakin meningkat, sementara pemberian ASI tetap dilanjutkan.
Pemberian makanan sebelum usia tersebut tidak dianjurkan sebagai praktik rutin karena bayi umumnya belum siap menerima makanan selain ASI atau susu formula. Pada bayi berusia dua minggu atau dua bulan, pemberian makanan kental seperti sagu juga berisiko mengganggu proses menyusu dan meningkatkan kemungkinan tersedak.
Kesiapan MPASI tidak hanya ditentukan oleh usia. Bayi juga perlu menunjukkan kemampuan mengendalikan kepala dan leher, mempertahankan posisi duduk dengan bantuan, serta mengoordinasikan gerakan mulut untuk menerima dan menelan makanan.
Risiko Tersedak Hingga Gangguan Pencernaan
Salah satu bahaya pemberian MPASI terlalu dini adalah tersedak. Kemampuan bayi untuk mengunyah dan menelan makanan dengan aman masih berkembang. Apabila makanan diberikan dalam tekstur yang tidak sesuai atau dipaksakan masuk ke mulut, makanan dapat menyumbat jalan napas atau masuk ke saluran pernapasan.
Selain itu, pemberian makanan yang tidak higienis dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pencernaan. Bayi juga bisa mengalami diare atau gangguan pencernaan lainnya apabila makanan yang diberikan tidak sesuai dengan usia dan kebutuhannya.
Meski sistem pencernaan bayi terus berkembang selama masa awal kehidupan, bahaya MPASI dini tidak semata-mata disebabkan oleh kekurangan enzim pencernaan. Faktor kesiapan menelan, keamanan tekstur, kebersihan makanan, dan kecukupan nutrisi juga perlu diperhatikan.
Memaksa Bayi Makan Bisa Mengganggu Pengalaman Makan
Pemberian makanan secara paksa juga perlu dihindari. Bayi yang menangis, menutup mulut, memalingkan kepala, atau menunjukkan tanda penolakan sebaiknya tidak dipaksa untuk makan.
Tekanan berulang saat makan dapat membuat pengalaman makan menjadi tidak menyenangkan dan berpotensi menimbulkan kesulitan makan di kemudian hari. Orang tua dianjurkan mengenali tanda lapar dan kenyang, memberikan makanan secara bertahap, serta menciptakan suasana makan yang nyaman.
Jika bayi belum berusia enam bulan, kebutuhan nutrisinya umumnya dipenuhi melalui ASI atau susu formula sesuai anjuran tenaga kesehatan. Apabila bayi menunjukkan kesulitan menyusu, pertumbuhan yang tidak optimal, atau memiliki kondisi medis tertentu, konsultasi dengan dokter diperlukan.
Orang Tua Perlu Memahami Aturan MPASI yang Aman
Setelah bayi berusia enam bulan dan menunjukkan tanda kesiapan, MPASI dapat diperkenalkan secara bertahap dengan tekstur yang sesuai kemampuan bayi. Makanan harus cukup padat gizi, disiapkan secara higienis, dan diberikan ketika bayi berada dalam posisi tegak serta diawasi orang dewasa.
Hindari memberikan makanan dengan tekstur atau bentuk yang berisiko menyebabkan tersedak. Jangan pula memasukkan makanan secara paksa ketika bayi menolak.
Kasus viral pemberian MPASI terlalu dini menjadi pengingat bahwa pola asuh dan pemberian makan bayi perlu mengikuti panduan kesehatan, bukan sekadar kebiasaan turun-temurun atau tren di media sosial. Memahami kesiapan bayi dan memberikan makanan dengan cara yang aman merupakan langkah penting untuk mendukung tumbuh kembangnya.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







