Jurnal Pelopor – Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menjadi perhatian setelah mengalami erupsi menerus selama sekitar 25 jam. Meski episode erupsi panjang tersebut telah berakhir, aktivitas vulkanik gunung api masih berlangsung dan tingkat kegempaannya tetap tinggi.
Pakar gunung api Surono atau yang akrab disapa Mbah Rono menjelaskan bahwa erupsi merupakan bagian dari proses alami pembentukan kembali tubuh Gunung Anak Krakatau.
Magma Terus Masuk, Tekanan Harus Dilepaskan
Menurut Mbah Rono, pasokan magma yang terus bergerak menuju tubuh gunung menyebabkan terjadinya akumulasi tekanan. Secara alami, tekanan tersebut perlu dilepaskan melalui aktivitas erupsi.
Ia menjelaskan, erupsi menjadi salah satu mekanisme gunung api untuk mengeluarkan material vulkanik yang telah terakumulasi di dalam sistemnya.
Material yang keluar kemudian jatuh dan menumpuk di sekitar tubuh gunung. Proses tersebut secara perlahan dapat membuat tubuh Gunung Anak Krakatau kembali bertambah besar dan tinggi.
Abu Vulkanik Jadi Bagian dari Proses Erupsi
Mbah Rono juga menjelaskan bahwa material hasil erupsi tidak seluruhnya akan berada di sekitar kawah. Sebagian material berupa abu vulkanik berukuran sangat halus dapat terbawa angin dan menyebar ke wilayah yang lebih jauh.
Menurutnya, penyebaran abu tersebut merupakan konsekuensi yang dapat terjadi dalam aktivitas letusan gunung api.
Dengan demikian, erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya berkaitan dengan pelepasan tekanan magma, tetapi juga menjadi bagian dari proses alami pertumbuhan tubuh gunung.
Erupsi Menerus Berakhir, Aktivitas Masih Tinggi
Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB berakhir pada Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB.
Setelah episode tersebut berakhir, Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan pola erupsi strombolian. Badan Geologi mencatat tiga kali erupsi strombolian dengan kolom erupsi berwarna hitam. Erupsi strombolian merupakan karakteristik yang selama ini dikenal pada aktivitas Gunung Anak Krakatau dan ditandai oleh letusan yang terjadi secara berkala.
Kegempaan Masih Tinggi
Meskipun erupsi menerus telah berakhir, pemantauan instrumental pada 6-7 September 2026 masih menunjukkan aktivitas kegempaan yang tinggi. Tercatat tiga kali gempa erupsi, sembilan kali gempa hembusan, 93 kali gempa low frequency, 98 kali gempa hybrid atau fase banyak, empat kali gempa tremor menerus, serta satu kali gempa vulkanik dangkal. Kondisi tersebut membuat Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.
Warga Diminta Menjauh dari Gunung
Kepala Badan Geologi Lana Saria menyebut kemungkinan terjadinya letusan dalam beberapa periode ke depan masih tinggi. Potensi bahaya utama yang perlu diwaspadai meliputi lontaran batu pijar dan hujan abu lebat. Selain itu, aliran lava juga berpotensi terjadi apabila kembali berlangsung erupsi menerus.
Badan Geologi mengingatkan masyarakat, wisatawan, dan pendaki untuk tidak mendekati pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer.
Dengan aktivitas vulkanik yang masih tinggi, pemantauan terhadap perkembangan Gunung Anak Krakatau terus dilakukan untuk mengantisipasi perubahan aktivitas dan potensi bahaya bagi masyarakat di sekitar kawasan Selat Sunda.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







