Jurnal Pelopor – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi perubahan arah pergerakan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau seiring dinamika angin di atmosfer. Kondisi tersebut membuat sebaran abu bergerak ke wilayah berbeda pada sejumlah lapisan ketinggian.
Informasi tersebut diperoleh dari analisis BMKG Raden Inten Lampung dengan mengacu pada data Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin serta citra satelit Himawari-9.
Arah Abu Berubah di Tiap Ketinggian
Forecaster On Duty BMKG Raden Inten Lampung, Pebri Surgiansyah, mengatakan pergerakan abu vulkanik Anak Krakatau menunjukkan pola berbeda berdasarkan ketinggiannya.
Berdasarkan SIGMET terbaru yang berlaku pukul 13.39–16.39 WIB, abu yang teramati sekitar pukul 13.10 WIB hingga ketinggian 12.000 kaki bergerak ke arah barat dengan kecepatan sekitar 5 knot.
Sementara itu, abu vulkanik pada lapisan hingga ketinggian 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya dengan kecepatan sekitar 10 knot. Intensitas sebaran abu pada kedua lapisan tersebut masih dilaporkan tetap.
Terbentuk Dua Klaster Sebaran
Analisis BMKG pada pukul 16.00 WIB menemukan dua klaster sebaran abu vulkanik Anak Krakatau. Data tersebut diperoleh dengan menggabungkan informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), VAAC Darwin, serta citra RGB Himawari-9.
Klaster pertama terpantau mulai dari permukaan hingga ketinggian sekitar 15.000 kaki. Abu pada lapisan ini bergerak ke arah timur laut hingga selatan. Jalur sebarannya mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.
Klaster Kedua Mengarah ke Sumatera
Sementara itu, klaster kedua terpantau mulai dari permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki. Sebaran abu pada lapisan ini bergerak ke arah barat daya hingga barat laut.
Wilayah yang berada dalam jalur sebaran tersebut antara lain sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, dan Sumatera Barat. Abu juga terpantau menyebar di kawasan Selat Sunda hingga perairan Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.
Masyarakat dan Penerbangan Perlu Waspada
Perubahan arah angin membuat pola sebaran abu vulkanik Anak Krakatau dapat berubah secara dinamis. Kondisi ini perlu menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang berada di jalur sebaran abu serta sektor penerbangan.
BMKG masih memantau perkembangan arah angin dan pergerakan abu vulkanik dengan memanfaatkan data atmosfer serta citra satelit terbaru. Informasi tersebut diperlukan untuk memperbarui pemetaan wilayah yang berpotensi terdampak seiring perubahan kondisi atmosfer.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







