Jurnal Pelopor — Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), rupiah dibuka di posisi Rp18.016 per dolar AS, sekaligus menjadi salah satu level terlemah dalam sejarah. Kondisi ini memicu perhatian pelaku pasar, dunia usaha, hingga masyarakat yang khawatir terhadap dampaknya terhadap perekonomian nasional.
Menanggapi perkembangan tersebut, Bank Indonesia (BI) memastikan terus memantau pergerakan pasar dan menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Gejolak Timur Tengah Jadi Faktor Utama
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Salah satu penyebab terbesar adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang kembali memanas dalam beberapa waktu terakhir.
Situasi tersebut membuat pasar global diliputi ketidakpastian. Investor cenderung mengalihkan dana mereka ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS. Akibatnya, banyak mata uang negara berkembang mengalami tekanan, termasuk rupiah.
Selain itu, konflik yang berkepanjangan juga membuat harga minyak dunia tetap tinggi. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan inflasi global dan memperbesar kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi dunia.
Kebutuhan Dolar di Dalam Negeri Masih Tinggi
Tak hanya faktor luar negeri, BI juga mencatat adanya kebutuhan valuta asing yang cukup besar dari dalam negeri. Permintaan dolar meningkat karena sejumlah perusahaan melakukan repatriasi dividen ke luar negeri serta memenuhi kewajiban pembayaran utang luar negeri.
Ketika permintaan dolar meningkat sementara pasokan terbatas, nilai tukar rupiah otomatis mengalami tekanan. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang turut mempercepat pelemahan mata uang Garuda dalam beberapa pekan terakhir.
Meski demikian, BI menilai kondisi tersebut masih berada dalam batas yang dapat dikelola dan tidak mencerminkan lemahnya fundamental ekonomi Indonesia secara keseluruhan.
BI Perkuat Intervensi Pasar
Untuk meredam gejolak yang terjadi, Bank Indonesia memastikan akan meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan. Langkah ini dilakukan agar mekanisme pasar tetap berjalan dengan baik dan pergerakan rupiah tidak terlalu berfluktuasi.
Intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen, mulai dari transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Selain menjaga stabilitas kurs, BI juga berupaya mempertahankan daya tarik investasi di Indonesia melalui kebijakan suku bunga dan instrumen moneter yang lebih kompetitif.
Transaksi Mata Uang Lokal Terus Diperluas
Sebagai strategi jangka panjang, BI terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan internasional melalui skema Local Currency Transaction (LCT).
Saat ini Indonesia telah menjalin kerja sama LCT dengan sejumlah negara, seperti China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Melalui mekanisme ini, transaksi perdagangan tidak selalu harus menggunakan dolar AS sehingga ketergantungan terhadap mata uang tersebut dapat berkurang.
Hingga April 2026, nilai transaksi LCT tercatat mencapai sekitar US$22,7 miliar. Angka tersebut hampir menyamai total transaksi sepanjang tahun 2025 yang mencapai US$25,7 miliar.
Cadangan Devisa Masih Kuat
Di tengah tekanan terhadap rupiah, BI menegaskan kondisi ketahanan eksternal Indonesia masih terjaga dengan baik. Cadangan devisa nasional tercatat sebesar US$146,2 miliar pada akhir April 2026.
Jumlah tersebut dinilai cukup untuk membiayai kebutuhan impor serta memenuhi kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah dalam beberapa bulan ke depan.
Bank Indonesia juga memastikan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah, pelaku pasar, dan dunia usaha untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Dengan langkah-langkah tersebut, BI berharap tekanan terhadap rupiah dapat dikelola sehingga tidak menimbulkan dampak yang lebih luas terhadap perekonomian Indonesia.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:
https://youtu.be/Jg8rOFS8ahc?si=X_ER38dgG4saCX_v







