Jurnal Pelopor — Banyak orang tua berusaha menenangkan anak ketika mereka merasa takut, cemas, atau menghadapi situasi yang membuat tidak nyaman. Namun, niat baik tersebut tidak selalu menghasilkan dampak positif. Sejumlah kalimat yang selama ini dianggap mampu menghibur justru dapat membuat anak merasa tidak dipahami, kehilangan rasa percaya diri, bahkan memperburuk kecemasan yang sedang mereka alami. Para ahli menilai, cara orang tua merespons emosi anak memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan anak mengenali dan mengelola perasaannya sejak dini.
Menurut ahli neuropsikologi William Cheung Tsang, anak membutuhkan validasi atas perasaan mereka sebelum diarahkan mencari solusi. Ketika emosi mereka diabaikan atau dianggap berlebihan, anak justru berisiko merasa malu, bingung, dan kesulitan memahami apa yang sedang dirasakannya.
Jangan Menganggap Rasa Takut Anak Sepele
Salah satu kalimat yang paling sering diucapkan orang tua adalah, “Jangan khawatir.” Meski terdengar menenangkan, kalimat ini dapat memberi kesan bahwa rasa takut anak tidak penting atau tidak pantas dirasakan.
Alih-alih langsung meminta anak berhenti khawatir, orang tua disarankan mengakui lebih dahulu perasaannya. Misalnya dengan mengatakan, “Ayah atau Ibu tahu kamu sedang merasa takut. Ceritakan apa yang membuatmu khawatir.”
Pendekatan seperti ini membantu anak merasa didengar sekaligus belajar mengenali emosinya sendiri.
Hindari Mengecilkan Masalah Anak
Kalimat “Ini bukan masalah besar” juga kerap digunakan agar anak lebih tenang. Padahal, apa yang dianggap sederhana oleh orang dewasa bisa terasa sangat besar bagi anak.
Ketika perasaannya dianggap remeh, anak dapat merasa bahwa emosinya tidak memiliki nilai. Akibatnya, ia mungkin memilih memendam rasa takut daripada menceritakannya kepada orang tua.
Mendengarkan tanpa menghakimi jauh lebih efektif dibanding langsung mengecilkan persoalan yang sedang dihadapi anak.
Menangis Adalah Respons yang Wajar
Ucapan “Jangan menangis” juga termasuk kalimat yang sebaiknya dihindari.
Menangis merupakan salah satu cara alami tubuh melepaskan tekanan emosional. Melarang anak menangis justru mengirimkan pesan bahwa menunjukkan emosi adalah sesuatu yang salah.
Dalam jangka panjang, anak bisa terbiasa memendam perasaan sehingga lebih sulit mengelola stres dan kecemasan ketika dewasa.
Jangan Selalu Mengambil Alih Masalah Anak
Banyak orang tua spontan berkata, “Biar Ayah atau Ibu saja yang kerjakan.”
Meski bertujuan membantu, kebiasaan ini dapat membuat anak merasa dirinya tidak mampu menghadapi tantangan sendiri.
Lebih baik orang tua mendampingi sambil memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba menyelesaikan masalah sesuai kemampuannya. Cara ini akan menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus kemampuan menghadapi situasi sulit.
Hindari Memberi Tekanan Tambahan
Kalimat seperti “Ayo cepat, jangan lama-lama”, “Tak usah dipikirkan”, atau “Itu cuma bayangan kamu saja” juga berpotensi memperburuk kecemasan anak.
Anak yang sedang cemas umumnya membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses situasi di sekitarnya. Memberi tekanan agar segera tenang atau berhenti berpikir justru membuat mereka merasa semakin tertekan.
Begitu pula ketika orang tua mengatakan bahwa ketakutan anak hanya khayalan. Kalimat tersebut dapat membuat anak merasa bersalah karena memiliki perasaan yang sebenarnya nyata bagi dirinya.
Bangun Komunikasi yang Empatik
Para ahli menyarankan agar orang tua mengganti kalimat-kalimat tersebut dengan respons yang lebih empatik.
Misalnya dengan bertanya, “Apa yang sedang kamu rasakan?”, “Apa yang membuatmu takut?”, atau “Apa yang bisa Ayah dan Ibu bantu?”
Kalimat sederhana seperti itu menunjukkan bahwa orang tua hadir sebagai tempat yang aman bagi anak untuk bercerita.
Selain itu, ketika anak sulit tidur karena cemas, orang tua dapat menemaninya, mengajak bernapas perlahan, mendengarkan musik yang menenangkan, atau melakukan aktivitas relaksasi bersama dibanding sekadar mengatakan agar anak lebih banyak tidur.
Dukungan Emosional Lebih Penting
Membangun kesehatan mental anak tidak selalu membutuhkan solusi yang rumit. Hal terpenting adalah memastikan anak merasa dipahami, diterima, dan tidak sendirian menghadapi rasa takutnya.
Dengan komunikasi yang penuh empati, orang tua tidak hanya membantu meredakan kecemasan anak, tetapi juga mengajarkan keterampilan penting dalam mengenali, menerima, dan mengelola emosi secara sehat. Kebiasaan inilah yang akan menjadi bekal berharga bagi anak ketika menghadapi berbagai tantangan kehidupan di masa depan.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:
https://youtu.be/Jg8rOFS8ahc?si=X_ER38dgG4saCX_v






