Jurnal Pelopor – Mimpi menjadi pesepak bola profesional tidak selalu hilang ketika seseorang beranjak dewasa. Di tengah kesibukan dan tanggung jawab hidup, kecintaan terhadap sepak bola tetap tumbuh dan menunggu kesempatan untuk kembali disalurkan. Hal itulah yang terlihat dari komunitas Sekolah Sepak Bola (SSB) khusus pria dewasa di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Kembali Berlatih Seperti Masa Kecil
Pada Sabtu sore, 10 Oktober 2026, puluhan pria dewasa berkumpul di sebuah lapangan sepak bola di Lebak Bulus. Mereka mengenakan jersey, mengikuti arahan pelatih, berlatih teknik dasar, hingga mengasah kembali kemampuan mengolah bola. Suasananya menyerupai latihan SSB anak-anak, tetapi kali ini pesertanya adalah para pria yang ingin menghidupkan kembali kecintaan mereka terhadap sepak bola.
Komunitas tersebut diinisiasi oleh Romi, yang akrab disapa Coach Romi. Ia melihat bahwa sebagian pria dewasa mungkin pernah memiliki cita-cita menjadi pemain sepak bola, tetapi tidak bisa mewujudkannya karena berbagai keadaan. Melalui SSB ini, mereka mendapat kesempatan untuk kembali belajar dan merasakan pengalaman berlatih secara terarah.
Berawal dari Kerinduan yang Sama
Gagasan membentuk SSB khusus pria dewasa berangkat dari pengamatan Romi terhadap fenomena inner child, yakni sisi masa kecil yang masih memiliki tempat dalam kehidupan seseorang. Ia melihat bahwa keinginan lama, termasuk impian menjadi pesepak bola, bisa tetap melekat meskipun seseorang telah dewasa. Kerinduan tersebut kemudian menjadi dasar untuk membangun komunitas yang memberi ruang bagi para pencinta sepak bola.
Romi memiliki bekal lisensi kepelatihan D PSSI serta pengalaman bertahun-tahun melatih sepak bola usia dini di kawasan Bintaro. Ide itu mulai berkembang ketika ia memiliki waktu luang pada akhir pekan setelah melatih anak-anak. Ia kemudian membagikan gagasannya tentang latihan sepak bola untuk orang dewasa yang tidak hanya berisi pertandingan, tetapi juga pembelajaran teknik dasar.
Bukan Sekadar Bermain Bola
Menurut Romi, komunitas fun football sudah banyak tersedia bagi orang dewasa. Namun, kegiatan tersebut umumnya lebih berfokus pada pertandingan daripada latihan teknik secara terstruktur. Melalui SSB bapak-bapak, ia ingin menghadirkan pengalaman berbeda dengan memberikan kesempatan kepada peserta untuk mempelajari kembali dasar-dasar permainan sepak bola.
Konsep latihan ini juga memberi ruang bagi peserta untuk memperbaiki kemampuan, memahami teknik, dan menikmati proses belajar bersama. Dengan arahan pelatih, mereka tidak sekadar mengejar kemenangan dalam pertandingan, tetapi juga menjalani latihan yang mungkin dahulu tidak sempat mereka tuntaskan. Sepak bola pun menjadi sarana untuk menjaga kebugaran sekaligus menyalurkan kecintaan terhadap olahraga.
Mimpi Tidak Selalu Memiliki Batas Usia
Kehadiran SSB bapak-bapak menunjukkan bahwa kecintaan terhadap sepak bola dapat bertahan melampaui masa sekolah dan usia muda. Tidak semua orang harus menjadi pemain profesional untuk menikmati proses berlatih, mengembangkan kemampuan, dan merasakan kebersamaan di lapangan. Bagi sebagian peserta, kesempatan mengenakan jersey dan mengikuti latihan terarah mungkin sudah menjadi cara tersendiri untuk mendekati mimpi masa kecil.
Komunitas seperti ini juga memperlihatkan bahwa olahraga dapat menjadi ruang untuk membangun pertemanan dan menjaga semangat di tengah rutinitas orang dewasa. Mimpi yang dahulu terhenti bukan berarti harus dilupakan sepenuhnya, sebab masih ada cara untuk merawatnya sesuai keadaan masing-masing. Kalau Anda punya mimpi masa kecil yang belum kesampaian, apakah Anda masih ingin mencoba mewujudkannya hari ini?
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







