Jurnal Pelopor – Al-Qur’an menjelaskan bahwa Nabi Adam AS, manusia pertama, diciptakan Allah SWT dari tanah. Surah Al-Hijr ayat 26 menyebut bahan penciptaannya berupa shalshal dari hama’in masnun, yang diterjemahkan sebagai tanah liat kering dari lumpur hitam yang dibentuk. Sementara itu, sejumlah riwayat menjelaskan bahwa tanah tersebut berasal dari berbagai jenis tanah di bumi.
Al-Qur’an Menjelaskan Asal Penciptaan Adam
Dalam Surah Al-Hijr ayat 26, Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ
Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang dibentuk.”
Ayat tersebut menggambarkan bahan penciptaan manusia pertama. Istilah shalshal merujuk pada tanah liat kering, sedangkan hama’in masnun berkaitan dengan lumpur hitam yang mengalami perubahan. Penjelasan mengenai istilah-istilah tersebut dapat ditemukan dalam literatur tafsir dan penjelasan ulama.
Dari Tanah Basah Menjadi Tanah Kering
Dalam penjelasan yang dikutip dari buku Al-Aabaa wal Abnaa fil Qur’anil Karim, tanah basah yang dibiarkan hingga mengering dapat menjadi tanah liat kering menyerupai tembikar. Penjelasan tersebut menghubungkan proses itu dengan Surah Ar-Rahman ayat 14, yang menyebut manusia diciptakan dari tanah liat kering seperti tembikar. Adapun ungkapan masnun dijelaskan dalam sejumlah penafsiran dengan makna yang berkaitan dengan perubahan atau keadaan lumpur yang dibiarkan.
Tanah dari Berbagai Penjuru Bumi
Sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari menyebutkan bahwa Allah SWT menciptakan Adam dari segenggam tanah yang diambil dari berbagai bagian bumi. Hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad dan At-Tirmidzi tersebut menghubungkan keragaman tanah dengan perbedaan warna kulit dan karakter keturunan Adam. Riwayat ini kerap dijadikan penjelasan keagamaan mengenai keragaman manusia.
Hadis tersebut menyebut adanya manusia dengan warna kulit berbeda, serta sifat yang beragam. Pesan yang dapat dipahami ialah bahwa manusia memiliki keragaman sejak keturunannya berkembang. Namun, perbedaan warna kulit maupun karakter tidak menjadi dasar untuk menilai kemuliaan seseorang di hadapan Allah SWT.
Riwayat tentang Bagian Tubuh Adam
Selain hadis mengenai segenggam tanah dari berbagai penjuru bumi, terdapat pula riwayat yang dikutip dalam sejumlah literatur kisah para nabi. Riwayat yang dinisbatkan kepada Ibnu Abbas menyebut bagian-bagian tubuh Adam berasal dari tanah di wilayah yang berbeda, termasuk tanah Ka’bah, India, serta arah timur dan barat. Keterangan ini perlu dipahami sebagai riwayat tersendiri, bukan sebagai rincian yang disebutkan secara langsung dalam ayat Al-Qur’an.
Ada pula keterangan dalam sejumlah kitab yang menyebut tanah dari tujuh tempat di bumi. Akan tetapi, rincian mengenai lokasi asal setiap bagian tubuh Adam tidak dijelaskan secara eksplisit dalam Al-Qur’an. Karena itu, penting membedakan keterangan yang bersumber langsung dari wahyu dengan detail yang berasal dari riwayat dan penafsiran.
Adam Diciptakan untuk Menjadi Khalifah
Penciptaan Nabi Adam AS juga berkaitan dengan kedudukannya sebagai khalifah di bumi. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 30, Allah SWT menyampaikan kepada para malaikat tentang kehendak-Nya menjadikan khalifah di bumi. Para malaikat kemudian bertanya mengenai kemungkinan kerusakan dan pertumpahan darah, lalu Allah menegaskan bahwa Dia mengetahui apa yang tidak mereka ketahui.
Kisah tersebut mengingatkan manusia tentang tanggung jawabnya dalam menjalani kehidupan di bumi. Al-Qur’an tidak hanya menjelaskan asal penciptaan manusia, tetapi juga menekankan kedudukan dan tanggung jawabnya. Menurut Anda, apa pelajaran terpenting dari penciptaan manusia dari tanah dan keragaman yang dimilikinya? Wallahu a’lam.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







