Jurnal Pelopor — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar operasi penangkapan ikan sapu-sapu serentak di lima wilayah kota pada Jumat (17/4/2026). Salah satu hasil paling mencengangkan ditemukan di saluran PHB Setu Babakan, Jagakarsa, di mana petugas berhasil mengangkat sekitar 3 ton ikan invasif tersebut hanya dalam waktu tiga jam.
Perburuan Masif di Jagakarsa
Operasi yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 11.00 WIB ini melibatkan “Pasukan Pelangi” dan petugas gabungan dari Sudin KPKP, Satpol PP, hingga aparat kecamatan. Wali Kota Jakarta Selatan, Muhammad Anwar, mengungkapkan bahwa Setu Babakan menjadi salah satu titik fokus utama karena populasinya yang sangat tinggi.
“Dalam waktu satu jam lebih saja, kami sudah mendapatkan kurang lebih 300 kilogram. Target kita hari ini adalah 5 ton,” ujar Anwar di lokasi.
Mengapa Ikan Ini Harus “Dihabiskan”?
Pemerintah menegaskan bahwa ini bukan sekadar pembersihan rutin, melainkan upaya penyelamatan ekosistem. Ada beberapa alasan kuat di baliknya:
-
Predator Telur: Ikan sapu-sapu dikenal memakan telur ikan lain, sehingga memutus rantai regenerasi ikan konsumsi lokal.
-
Tahan Banting: Ikan ini mampu hidup di air yang sangat kotor sekalipun, namun keberadaannya merusak kualitas lingkungan perairan.
-
Reproduksi Kilat: Sekali bertelur, ikan sapu-sapu bisa menghasilkan hingga 800 butir telur, yang membuatnya sangat sulit dikendalikan jika tidak dilakukan penangkapan secara masif.
Waspada Jajanan Berbahan Ikan Sapu-Sapu
Selain masalah lingkungan, Anwar juga memberikan peringatan keras kepada masyarakat terkait aspek kesehatan. Muncul kekhawatiran bahwa ikan hasil tangkapan liar ini disalahgunakan oleh oknum tak bertanggung jawab sebagai bahan baku olahan pangan seperti siomay atau bakso.
“Masyarakat harus lebih selektif dalam membeli jajanan. Kita khawatir jika asal-usulnya tidak jelas, dampaknya (kesehatan) bisa dirasakan dalam jangka panjang,” imbuhnya.
Upaya pembersihan ini memang langkah berani untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem di Setu Babakan. Namun, mengingat ikan ini bisa bertelur ratusan butir dalam sekali waktu, menurut kamu apakah operasi “angkut massal” seperti ini cukup efektif, atau pemerintah perlu memikirkan cara biologis lain untuk menekan populasi mereka secara alami?
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:
https://youtu.be/Jg8rOFS8ahc?si=X_ER38dgG4saCX_v






