Jurnal Pelopor – Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa jemaah haji Indonesia menghabiskan hampir Rp2 triliun hanya untuk membeli oleh-oleh selama penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi. Nilai tersebut menjadi komponen terbesar dalam pengeluaran pribadi jemaah di luar biaya resmi penyelenggaraan ibadah haji.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyebut total pengeluaran pribadi jemaah haji tahun ini diperkirakan mencapai Rp4,25 triliun. Angka tersebut berasal dari pengeluaran jemaah haji reguler sebesar Rp3,39 triliun dan jemaah haji khusus sekitar Rp857,3 miliar.
Belanja Oleh-Oleh Dominasi Pengeluaran Jemaah
Menurut BPS, belanja oleh-oleh mencapai sekitar Rp1,96 triliun atau 46,1 persen dari seluruh pengeluaran pribadi jemaah. Persentase ini menjadikan pembelian buah tangan sebagai pos pengeluaran terbesar selama pelaksanaan ibadah haji.
Amalia menjelaskan, tingginya nilai belanja oleh-oleh tidak terlepas dari budaya masyarakat Indonesia yang menganggap membawa buah tangan setelah berhaji sebagai sebuah tradisi.
“Belanja oleh-oleh masih menjadi bagian penting dari pola konsumsi jemaah selama menunaikan ibadah haji. Bagi banyak masyarakat Indonesia, pulang dari Tanah Suci tanpa membawa oleh-oleh terasa kurang lengkap,” ujarnya.
Obat, Dam, hingga Internet Masuk Daftar Pengeluaran
Selain membeli oleh-oleh, jemaah juga mengalokasikan dana untuk berbagai kebutuhan selama berada di Arab Saudi.
BPS mencatat pengeluaran untuk obat-obatan dan kebutuhan lainnya mencapai sekitar Rp734,3 miliar. Sementara pembayaran dam atau denda ibadah tercatat sebesar Rp669,9 miliar.
Pengeluaran untuk makanan tambahan, jajanan, dan minuman mencapai Rp542,6 miliar, sedangkan biaya transportasi sekitar Rp257,4 miliar. Adapun kebutuhan paket data dan internet menghabiskan sekitar Rp86,2 miliar.
Perputaran Uang Haji Tembus Rp29,25 Triliun
Secara keseluruhan, BPS menghitung total perputaran uang dalam penyelenggaraan ibadah haji Indonesia tahun 2026 mencapai Rp29,25 triliun.
Jumlah tersebut terdiri atas:
- Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) reguler: Rp17,77 triliun.
- BPIH haji khusus: Rp7,23 triliun.
- Pengeluaran pribadi jemaah: Rp4,25 triliun.
Besarnya nilai tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan ibadah haji tidak hanya berdampak pada aspek keagamaan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang sangat besar.
Mayoritas Belanja Mengalir ke Arab Saudi
Meski nilai transaksi mencapai puluhan triliun rupiah, BPS menyoroti bahwa sebagian besar uang tersebut justru dibelanjakan di Arab Saudi.
Diperkirakan sekitar 70 persen atau Rp20,48 triliun digunakan untuk membeli barang dan jasa selama pelaksanaan ibadah di Tanah Suci. Sementara hanya sekitar 30 persen atau Rp8,78 triliun yang berasal dari konsumsi barang dan jasa produksi Indonesia maupun yang menggunakan bahan baku dalam negeri.
Menurut BPS, kondisi tersebut menjadi peluang bagi pemerintah dan pelaku usaha nasional untuk meningkatkan penggunaan produk Indonesia dalam penyelenggaraan ibadah haji, sehingga manfaat ekonominya dapat lebih banyak dirasakan di dalam negeri.
Peluang Tingkatkan Dampak Ekonomi Nasional
Amalia menilai masih terdapat ruang yang besar untuk memperbesar kontribusi penyelenggaraan ibadah haji terhadap perekonomian Indonesia. Salah satunya melalui peningkatan penggunaan produk lokal, baik untuk kebutuhan konsumsi jemaah maupun perlengkapan ibadah yang dapat diproduksi di dalam negeri.
Dengan strategi tersebut, perputaran dana haji diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi perekonomian Arab Saudi, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan industri nasional, meningkatkan daya saing produk lokal, serta memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat Indonesia.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







