Jurnal Pelopor – Bagi sebagian orang, ada satu hal yang terasa berbeda ketika menggunakan kamar mandi hotel, yakni tidak ditemukannya gayung dan bak air. Sebagai gantinya, hotel biasanya menyediakan shower serta bidet sprayer yang terhubung langsung dengan saluran air.
Ketiadaan gayung ternyata bukan sekadar mengikuti gaya kamar mandi modern. Ada sejumlah pertimbangan yang membuat hotel lebih memilih sistem air langsung dari pipa.
Mulai dari desain ruangan, keselamatan tamu, kebersihan, hingga efisiensi penggunaan air menjadi faktor yang diperhitungkan dalam pengelolaan kamar mandi hotel.
1. Menjaga Area Kering Tetap Kering
Kamar mandi hotel umumnya dirancang dengan konsep pemisahan area basah dan kering atau wet and dry zoning. Area shower menjadi tempat yang memang diperbolehkan terkena banyak air, sedangkan toilet dan area wastafel dijaga agar tetap relatif kering.
Konsep tersebut banyak digunakan dalam desain perhotelan modern. Salah satunya dibahas dalam buku Hotel Design, Planning and Development karya Richard H. Penner dan sejumlah penulis lainnya.
Penggunaan gayung dapat membuat air lebih mudah terciprat ke berbagai bagian kamar mandi. Jika area yang seharusnya kering terus terkena air, kondisi lantai dan perabot di dalamnya dapat lebih cepat mengalami masalah.
Kelembapan berlebih juga dapat meningkatkan risiko munculnya jamur atau mold and mildew pada bagian tertentu kamar mandi.
2. Mengurangi Risiko Tamu Terpeleset
Alasan berikutnya berkaitan dengan keselamatan. Lantai kamar mandi hotel umumnya menggunakan material seperti keramik atau batu yang bisa menjadi licin ketika terkena air.
Jika penggunaan gayung membuat air menyebar hingga ke area yang sering dilalui tamu, genangan pun lebih mudah terbentuk. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terpeleset dan jatuh.
Karena itu, hotel berusaha mengarahkan air hanya ke area yang memang digunakan untuk mandi. Shower dan saluran pembuangan yang dirancang dengan baik membantu mengurangi penyebaran air ke seluruh ruangan.
3. Lebih Mudah Menjaga Kebersihan
Gayung dan ember merupakan wadah terbuka yang dapat bersentuhan langsung dengan tangan maupun berbagai permukaan. Jika tidak dibersihkan secara rutin, bagian yang selalu basah juga berpotensi menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme.
Hotel kemudian lebih banyak menggunakan sistem plumbing tertutup. Air dialirkan langsung melalui shower atau bidet sprayer sehingga tidak perlu ditampung terlebih dahulu di dalam ember.
Sistem tersebut juga membuat pengelola lebih mudah mengatur kebersihan fasilitas karena air keluar langsung dari saluran yang tersedia.
4. Membantu Mengontrol Penggunaan Air
Penggunaan shower juga berkaitan dengan penghematan air. Banyak perangkat shower modern memiliki pengatur debit atau flow restrictor yang membatasi jumlah air yang keluar.
Sistem tersebut memungkinkan penggunaan air menjadi lebih terukur. Sementara itu, penggunaan gayung tidak memiliki mekanisme otomatis untuk membatasi volume air yang digunakan.
Penghematan air menjadi perhatian penting bagi industri perhotelan karena kebutuhan air dalam operasional hotel cukup besar. Karena itu, berbagai perangkat yang dapat mengontrol konsumsi air semakin banyak digunakan.
Jadi, Bukan Sekadar Gaya Modern
Tidak adanya gayung di kamar mandi hotel ternyata memiliki alasan yang cukup masuk akal. Desain tersebut berkaitan dengan upaya menjaga area kering, mengurangi risiko terpeleset, mempertahankan kebersihan, sekaligus mengontrol penggunaan air.
Meski begitu, bukan berarti penggunaan gayung selalu buruk. Gayung tetap menjadi perlengkapan yang praktis di banyak rumah karena sesuai dengan kebiasaan dan kebutuhan penggunanya.
Hotel hanya memilih sistem yang dianggap lebih sesuai dengan konsep kamar mandi modern dan kebutuhan operasionalnya. Jadi, ketika Anda tidak menemukan gayung saat menginap di hotel, ternyata ada beberapa pertimbangan di baliknya.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







