Jurnal Pelopor – Berbagai bencana yang terjadi secara beruntun dan terus diberitakan dapat memengaruhi kondisi emosional masyarakat. Paparan informasi mengenai kejadian buruk secara terus-menerus bahkan bisa membuat seseorang mengalami kelelahan emosional hingga akhirnya menjadi apatis terhadap lingkungan sekitarnya.
Psikolog Meity Arianty menjelaskan, kondisi tersebut dapat muncul ketika seseorang terlalu sering berada dalam situasi yang dianggap mengancam, termasuk melalui paparan berita dan informasi bencana.
Otak Terus Merasa Berada dalam Ancaman
Menurut Meity, ketika informasi mengenai bencana datang tanpa henti, otak dapat menangkap keadaan seolah-olah ancaman selalu berada di sekitar. Situasi tersebut dapat memicu berbagai respons emosional, mulai dari kecemasan, mudah marah, hingga munculnya rasa pesimis terhadap keadaan.
“Kita terus menerus apalagi bencana belum satu-satu lagi. Jadi secara emosional kita jadi kayak lelah,” ujar Meity dalam tayangan detikPagi, Selasa (8/9/2026).
Kelelahan emosional itu, lanjutnya, tidak selalu ditunjukkan dengan rasa cemas. Pada sebagian orang, respons yang muncul justru berupa sikap tidak peduli terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarnya.
Apatis Bisa Menjadi Bentuk Perlindungan Diri
Sikap apatis dalam kondisi tersebut dapat menjadi salah satu cara otak melindungi diri dari beban emosi yang dirasakan terlalu berat. Ketika terus-menerus menerima informasi mengenai bencana, seseorang bisa memilih menghindari berita, berhenti mengikuti perkembangan peristiwa, atau membatasi keterlibatannya terhadap isu yang sedang terjadi.
Meski demikian, kondisi ini tetap perlu diperhatikan. Sikap apatis yang berlebihan berpotensi membuat seseorang kehilangan kepedulian terhadap lingkungan maupun orang lain yang membutuhkan bantuan.
Padahal, informasi mengenai bencana tetap penting untuk meningkatkan kewaspadaan dan membantu masyarakat mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan risiko.
Jangan Semua Informasi Dikonsumsi
Karena itu, masyarakat disarankan tidak menerima seluruh informasi bencana secara mentah. Informasi sebaiknya disaring dan diperoleh dari sumber yang kredibel.
Konten yang hanya menimbulkan ketakutan tanpa memberikan informasi yang jelas dan bermanfaat juga sebaiknya dihindari.
Meity menilai masyarakat perlu mengetahui mana informasi yang benar-benar penting untuk diketahui dan dibagikan, serta mana informasi yang justru hanya memperbesar rasa takut.
Respons Setiap Orang Bisa Berbeda
Meity juga mengingatkan bahwa kemampuan setiap orang dalam menghadapi tekanan emosional tidak sama. Orang yang sebelumnya pernah mengalami pengalaman traumatis, seperti kehilangan orang terdekat atau menyaksikan kejadian buruk, dapat memberikan respons berbeda ketika kembali mendapatkan informasi mengenai bencana.
Karena itu, membatasi paparan informasi bukan berarti seseorang tidak peduli. Yang terpenting adalah menemukan batas yang sehat agar tetap mendapatkan informasi penting tanpa membuat kondisi emosional semakin terbebani.
Dengan mengatur konsumsi informasi dan memilih sumber yang terpercaya, masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap bencana tanpa harus terus-menerus hidup dalam kecemasan.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







