Jurnal Pelopor – Kebiasaan duduk terlalu lama dan jarang bergerak atau yang sering disebut sebagai gaya hidup mager ternyata tidak hanya berdampak pada kebugaran tubuh. Kebiasaan tersebut juga dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko sejumlah penyakit kronis, termasuk kanker.
Meski demikian, hubungan antara gaya hidup sedentari dan kanker tidak bisa dipahami secara sederhana. Kanker merupakan penyakit multifaktorial yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari faktor genetik, pola makan, berat badan, lingkungan, hingga kebiasaan hidup sehari-hari.
Karena itu, duduk terlalu lama bukan berarti secara langsung menyebabkan seseorang terkena kanker. Namun, pola hidup yang minim aktivitas fisik dapat menciptakan sejumlah kondisi dalam tubuh yang pada akhirnya meningkatkan faktor risiko kanker.
Berawal dari Kurang Gerak dan Obesitas
Spesialis penyakit dalam subspesialisasi hematologi-onkologi, dr Santi Christiani Gultom, SpPD-KHOM, menjelaskan bahwa salah satu kaitan utama antara gaya hidup sedentari dan kanker adalah obesitas.
Orang yang jarang bergerak cenderung memiliki pengeluaran energi yang lebih rendah. Jika kondisi tersebut berlangsung dalam jangka panjang dan tidak diimbangi dengan pola makan yang sesuai, berat badan dapat meningkat dan berujung pada obesitas.
Obesitas sendiri telah dikenal sebagai salah satu faktor risiko untuk beberapa jenis kanker. Dengan demikian, gaya hidup sedentari dapat berkontribusi terhadap risiko kanker melalui perubahan berat badan dan kondisi metabolisme tubuh.
“Jadi kaitannya dengan obesitas ujungnya. Karena sudah diakui dari penelitian-penelitian yang sudah dipublikasi bahwa obesitas menjadi salah satu faktor risiko untuk memicu terjadinya kanker,” kata dr Santi dalam temu media di Jakarta Selatan, Selasa (1/9/2026).
Ia menambahkan, gaya hidup yang minim aktivitas juga dapat membuat indeks massa tubuh atau Body Mass Index (BMI) meningkat. Dalam kondisi tertentu, massa otot seseorang juga dapat berkurang karena tubuh tidak mendapatkan stimulus aktivitas fisik yang cukup.
Bukan Hanya Soal Berat Badan
Risiko dari gaya hidup sedentari tidak semata-mata berkaitan dengan angka pada timbangan. Kurangnya aktivitas fisik juga dapat memengaruhi berbagai proses metabolisme tubuh.
Ketika seseorang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk, sementara aktivitas fisiknya sangat rendah, tubuh menjadi kurang aktif menggunakan energi. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap berbagai gangguan kesehatan yang berkaitan dengan metabolisme.
Inilah yang membuat aktivitas fisik menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kesehatan secara keseluruhan. Bergerak secara rutin tidak harus selalu dilakukan dalam bentuk olahraga berat. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, menaiki tangga, melakukan pekerjaan rumah, atau berdiri dan melakukan peregangan secara berkala juga dapat membantu mengurangi waktu sedentari.
Penelitian 2026 Temukan Kaitannya dengan Kanker
Hubungan antara perilaku sedentari dan kanker juga menjadi perhatian dalam penelitian yang diterbitkan pada 2026 berjudul Sedentary behaviour and cancer risk: a World Cancer Research Fund International Global Cancer Update Programme (CUP Global) systematic literature review and meta-analysis.
Dalam penelitian tersebut, perilaku kurang bergerak dalam waktu lama disebut kemungkinan berperan sebagai penyebab kanker payudara dan kanker usus besar.
Sementara itu, terdapat pula bukti yang masih bersifat sugestif dan terbatas mengenai hubungan positif antara perilaku sedentari dengan beberapa jenis kanker lainnya, termasuk kanker paru-paru dan kanker ovarium.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kebiasaan terlalu banyak duduk perlu diperhatikan sebagai salah satu bagian dari gaya hidup. Namun, penelitian tersebut tidak berarti setiap orang yang banyak duduk pasti akan mengalami kanker.
Mulai Kurangi Kebiasaan Mager
Bagi orang yang memiliki pekerjaan atau rutinitas yang mengharuskan duduk dalam waktu lama, mengurangi perilaku sedentari dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Salah satunya dengan menyelingi waktu duduk dengan berdiri atau berjalan secara berkala. Waktu luang juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan, baik dengan berjalan kaki, bersepeda, olahraga ringan, maupun aktivitas lainnya.
Yang tidak kalah penting adalah menjaga berat badan, memperhatikan pola makan, tidur yang cukup, dan menghindari kebiasaan yang memang sudah diketahui meningkatkan risiko kanker.
Pada akhirnya, mencegah kanker tidak cukup hanya dengan mengandalkan satu kebiasaan. Gaya hidup aktif merupakan salah satu bagian dari upaya menjaga kesehatan, terutama jika dikombinasikan dengan pola makan seimbang dan kebiasaan hidup sehat lainnya.
Jadi, bagi kaum mager, sesekali berdiri dari kursi dan bergerak bukan sekadar untuk mengusir rasa pegal. Kebiasaan sederhana tersebut dapat menjadi bagian dari investasi kesehatan jangka panjang.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







