Jurnal Pelopor – Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Lampung Selatan, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup tinggi. Pada Minggu (16/8/2026), gunung api tersebut tercatat mengalami erupsi sebanyak empat kali dalam sehari. Kondisi ini membuat masyarakat, wisatawan, dan pengunjung diminta meningkatkan kewaspadaan serta tidak mendekati kawasan kawah aktif.
Empat Kali Erupsi Dalam Sehari
Erupsi pertama terjadi pada pukul 09.12 WIB. Saat itu, kolom abu teramati mencapai sekitar 200 meter di atas puncak kawah atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut. Abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas sedang hingga tebal dan bergerak ke arah barat daya serta barat.
Aktivitas kembali terjadi pada pukul 14.32 WIB. Kolom letusan kali ini mencapai sekitar 250 meter di atas puncak atau 407 meter di atas permukaan laut. Abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal bergerak ke arah barat dan barat laut.
Erupsi ketiga terjadi pada pukul 17.06 WIB. Tinggi kolom letusan mencapai sekitar 300 meter di atas puncak atau 457 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna hitam dengan intensitas tebal bergerak ke arah barat dan barat laut.
Sementara itu, erupsi keempat tercatat pada pukul 20.09 WIB. Tinggi kolom abu tidak teramati, tetapi aktivitas letusan tetap terekam oleh seismograf dengan amplitudo maksimum 60 milimeter dan berlangsung selama 38 detik.
Aktivitas Vulkanik Masih Fluktuatif
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Andi Suwardi, mengatakan aktivitas gunung api tersebut masih mengalami naik turun. Menurutnya, tremor harmonik mulai muncul dengan amplitudo yang cukup besar.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan status Gunung Anak Krakatau masih berada pada level Siaga. Aktivitas vulkanik yang fluktuatif juga membuat kondisi gunung sulit dipastikan karena dapat berubah dalam waktu singkat.
Andi mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap kondisi gunung aman hanya karena aktivitas erupsi sempat menurun. Perubahan aktivitas vulkanik tidak selalu dapat diketahui secara kasatmata, sehingga masyarakat perlu mengikuti informasi resmi dari petugas pengamatan gunung api.
Jangan Mendekati Kawah Aktif
Masyarakat, wisatawan, maupun pengunjung diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau. Larangan tersebut diberlakukan untuk mengurangi risiko apabila terjadi peningkatan aktivitas atau letusan secara tiba-tiba.
Petugas juga mengingatkan bahwa masyarakat umum tidak memiliki peralatan untuk mendeteksi perubahan aktivitas dari dalam tubuh gunung. Karena itu, keputusan untuk mendekati kawasan gunung api saat status masih Siaga dinilai memiliki risiko yang tidak perlu.
Dengan aktivitas yang masih terus berubah, masyarakat di sekitar kawasan Selat Sunda diimbau tetap tenang, tetapi tidak lengah. Informasi mengenai perkembangan Gunung Anak Krakatau sebaiknya selalu diperoleh dari sumber resmi dan mengikuti rekomendasi petugas demi keselamatan bersama.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







