Jurnal Pelopor – Promosi minuman keras (miras) merek Newport dalam gelaran The Sounds Project menuai kecaman setelah beredar video yang memperlihatkan pengunjung ditantang menghafal Surat Ad-Dhuha untuk mendapatkan miras secara gratis. Aksi yang berlangsung di booth Newport tersebut ramai menjadi sorotan di media sosial karena dianggap membawa unsur agama ke dalam kegiatan promosi minuman beralkohol.
Potongan video yang beredar memperlihatkan sales dan pembawa acara di depan booth Newport memberikan tantangan kepada pengunjung. Mereka yang mampu melafalkan hafalan Surat Ad-Dhuha disebut berkesempatan mendapatkan minuman keras secara cuma-cuma.
Video tersebut kemudian menyebar luas dan memicu beragam reaksi dari masyarakat. Sejumlah pihak menilai penggunaan hafalan ayat Al-Qur’an sebagai bagian dari promosi produk minuman beralkohol tidak pantas dan berpotensi menyinggung umat Muslim.
Disebut Sebagai Bentuk Pelecehan Agama
Ketua Umum Yayasan Konsumen Muslim Indonesia (YKMI) Ferry Irawan menjadi salah satu pihak yang mengecam keras promosi tersebut.
Menurut Ferry, tindakan itu tidak dapat dianggap sekadar gimmick pemasaran untuk menarik perhatian pengunjung festival. Ia menilai penggunaan Surat Ad-Dhuha dalam tantangan mendapatkan miras telah melewati batas moral dan etika.
Ferry juga mendesak Kementerian Perdagangan untuk mengambil tindakan terhadap peredaran produk Newport. Ia meminta agar izin edar produk tersebut dievaluasi hingga kemungkinan pencabutan izin.
Selain itu, Ferry mengajak masyarakat dan organisasi keagamaan untuk melaporkan kejadian tersebut kepada aparat penegak hukum. Ia berpendapat, permintaan maaf dari pihak yang terlibat nantinya tidak serta-merta menghapus persoalan hukum apabila memang ditemukan unsur pelanggaran.
The Sounds Project Tegaskan Tidak Pernah Menyetujui
Di tengah polemik yang berkembang, pihak The Sounds Project turut memberikan tanggapan. Penyelenggara festival menyatakan marah dan kecewa atas tindakan yang menjadi sorotan tersebut.
Mereka menegaskan bahwa pihak penyelenggara tidak pernah memberikan persetujuan terhadap aktivitas yang menjadikan agama sebagai bahan tantangan maupun bagian dari promosi produk.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa tindakan yang terlihat dalam video bukanlah bagian dari konsep acara yang disetujui penyelenggara.
Video Viral Jadi Sorotan Publik
Peristiwa tersebut kini menjadi perbincangan di media sosial. Banyak warganet mempertanyakan bagaimana aktivitas promosi tersebut dapat berlangsung di area festival dan melibatkan unsur keagamaan.
Kontroversi ini juga kembali membuka perdebatan mengenai batas kreativitas dalam kegiatan promosi. Penggunaan isu atau simbol agama sebagai bagian dari strategi pemasaran dinilai perlu dipertimbangkan secara matang agar tidak menimbulkan keresahan maupun menyinggung kelompok masyarakat tertentu.
Sementara itu, publik masih menantikan langkah lebih lanjut dari pihak-pihak terkait untuk menindaklanjuti polemik tersebut, termasuk klarifikasi dari pihak yang berada di balik aktivitas promosi dalam video yang beredar.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:






