Jurnal Pelopor – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengungkap dugaan penyebab insiden keracunan yang dialami sejumlah siswa penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua. Berdasarkan hasil evaluasi awal, makanan diduga dimasak terlalu cepat pada malam sebelumnya sehingga tidak memenuhi prosedur keamanan pangan yang telah ditetapkan.
Kasus ini menjadi perhatian serius pemerintah karena menyangkut keselamatan penerima manfaat program MBG. BGN menegaskan akan mengevaluasi kedisiplinan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Diduga Memasak Sejak Malam Hari
Sudaryono menjelaskan bahwa SPPG di Jayapura diduga mulai memasak sekitar pukul 19.00 hingga 19.30 pada malam sebelum makanan disajikan kepada siswa keesokan harinya sekitar pukul 11.00 waktu setempat.
Menurutnya, praktik tersebut melanggar standar operasional yang telah ditetapkan dalam penyelenggaraan program MBG. Ia juga mengungkapkan bahwa pola serupa ditemukan pada kasus dugaan keracunan di Semarang, Jawa Tengah, di mana proses memasak juga dilakukan terlalu dini.
“Ini masalah kedisiplinan. Kami sedang mencari formula pengawasan agar pelanggaran seperti ini tidak kembali terjadi,” ujar Sudaryono.
Tidak Menutup Kemungkinan Proses Hukum
BGN menegaskan akan bertindak tegas apabila dalam penyelidikan ditemukan unsur kesengajaan, sabotase, atau pelanggaran lain yang mengarah pada tindak pidana.
Menurut Sudaryono, pemerintah tidak akan menutupi fakta apabila ditemukan pelanggaran serius dalam pelaksanaan program MBG.
“Kalau memang ada unsur-unsur lain seperti kesengajaan atau sabotase, tentu akan kami serahkan kepada aparat penegak hukum untuk diperiksa,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa seluruh proses tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah hingga investigasi selesai dilakukan.
Edukasi Soal Keamanan Pangan Jadi Perhatian
Selain persoalan proses memasak, BGN juga menemukan adanya kasus di mana makanan MBG dibawa pulang oleh penerima manfaat sebelum dikonsumsi.
Menurut Sudaryono, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kerusakan makanan apabila tidak disimpan dengan benar, sehingga berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan, bukan hanya bagi siswa tetapi juga anggota keluarganya.
Karena itu, BGN berencana memperkuat edukasi mengenai keamanan pangan kepada seluruh penerima manfaat agar makanan dikonsumsi sesuai prosedur yang dianjurkan.
Delapan Siswa Berangsur Pulih
Sebelumnya, sejumlah siswa di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG pada Rabu (5/8/2026).
Mereka sempat menjalani perawatan di RSUP Jayapura. Berdasarkan perkembangan terbaru, delapan pasien dilaporkan berangsur membaik, bahkan satu di antaranya telah diperbolehkan pulang setelah kondisinya dinyatakan stabil.
Pemerintah menyatakan investigasi terhadap penyebab pasti insiden tersebut masih terus berlangsung.
Evaluasi Program MBG Terus Dilakukan
Kasus di Jayapura menjadi bahan evaluasi terbaru dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis yang kini diterapkan di berbagai daerah. BGN menegaskan bahwa setiap pelanggaran terhadap standar operasional akan ditindak sesuai ketentuan, sekaligus memperkuat sistem pengawasan terhadap seluruh SPPG.
Pemerintah berharap evaluasi ini dapat meningkatkan kualitas pelaksanaan program sehingga tujuan menyediakan makanan bergizi yang aman dan sehat bagi para siswa tetap dapat tercapai tanpa mengorbankan aspek keselamatan pangan.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







