Jurnal Pelopor — Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya akhirnya menjelaskan alasan di balik tingginya frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto selama sekitar 1,5 tahun masa pemerintahannya. Menurut Teddy, kunjungan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari strategi diplomasi Indonesia di tengah situasi global yang terus berubah dan penuh ketidakpastian.
Pernyataan itu disampaikan Teddy sebagai respons terhadap berbagai kritik yang muncul terkait intensitas perjalanan luar negeri Presiden. Ia menegaskan bahwa sebagian agenda internasional sudah dijadwalkan jauh hari, bahkan hingga satu tahun sebelumnya, sementara sebagian lainnya bersifat mendesak mengikuti perkembangan dunia.
Dunia Sedang Menghadapi Banyak Krisis
Teddy menjelaskan bahwa sejak awal masa jabatan Presiden Prabowo, dunia dihadapkan pada berbagai konflik dan ketegangan internasional. Mulai dari perang di Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, hingga berbagai persoalan geopolitik lainnya yang berdampak terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan global.
Dalam situasi seperti itu, menurut Teddy, seorang kepala negara perlu aktif membangun komunikasi dan hubungan baik dengan para pemimpin dunia. Hubungan tersebut dinilai penting sebagai modal diplomasi jangka panjang bagi Indonesia.
“Hubungan antarnegara tidak bisa dibangun secara instan ketika krisis terjadi. Kedekatan dan kepercayaan harus dibangun sejak awal,” ujar Teddy.
Diplomasi Bukan Sekadar Bertemu Pemimpin Dunia
Lebih lanjut, Teddy menegaskan bahwa kunjungan luar negeri Presiden memiliki tujuan yang jauh lebih besar daripada sekadar menghadiri acara internasional atau pertemuan resmi.
Menurutnya, diplomasi modern juga melibatkan hubungan personal antar pemimpin negara. Kedekatan tersebut dapat membantu Indonesia ketika membutuhkan dukungan internasional di masa mendatang, baik dalam bidang ekonomi, investasi, perdagangan, maupun keamanan.
Karena itu, Teddy menilai anggapan bahwa kunjungan Presiden hanya bertujuan untuk pencitraan atau seremonial merupakan pandangan yang kurang tepat.
Rombongan Presiden Diklaim Lebih Efisien
Selain menjawab kritik soal frekuensi perjalanan, Teddy juga membantah anggapan bahwa kunjungan luar negeri Presiden Prabowo menghabiskan anggaran negara secara berlebihan.
Ia mengungkapkan bahwa jumlah rombongan yang mengikuti Presiden saat kunjungan luar negeri kini jauh lebih sedikit dibandingkan periode pemerintahan sebelumnya. Jika dahulu jumlah rombongan bisa mencapai lebih dari 120 orang, kini hanya berkisar antara 50 hingga 60 orang.
Menurut Teddy, efisiensi tersebut dilakukan untuk menjaga penggunaan anggaran negara tetap efektif tanpa mengurangi kualitas diplomasi yang dijalankan.
Kelebihan Biaya Ditanggung Pribadi
Teddy juga menegaskan bahwa apabila terdapat biaya perjalanan yang melebihi anggaran resmi negara, seluruh kelebihan tersebut ditanggung secara pribadi oleh Presiden Prabowo.
Pernyataan ini disampaikan untuk menjawab kekhawatiran publik terkait besarnya biaya kunjungan luar negeri yang dilakukan pemerintah.
Di akhir penjelasannya, Teddy menyampaikan bahwa pemerintah tetap terbuka terhadap kritik dan masukan dari berbagai pihak. Namun, ia menilai masyarakat juga perlu melihat hasil dan manfaat yang telah dicapai dari berbagai kunjungan internasional yang dilakukan Presiden dalam membangun posisi Indonesia di panggung dunia.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:
https://youtu.be/Jg8rOFS8ahc?si=X_ER38dgG4saCX_v






