Jurnal Pelopor — Situasi di jalur pelayaran paling vital dunia, Selat Hormuz, semakin memanas menyusul kebijakan kontroversial Teheran yang mulai menarik “tol” dari kapal-kapal internasional. Dalam pertemuan konsultatif di Jeddah, Arab Saudi, para pemimpin negara Teluk menyatakan sikap resmi mereka untuk menjaga navigasi tetap aman dan bebas dari pungutan sepihak.
Penolakan Keras Negara-Negara Teluk (GCC)
Sekretaris Jenderal GCC, Jasem Mohamed Albudaiwi, menegaskan bahwa pungutan tarif oleh Iran di Selat Hormuz melanggar hukum internasional. GCC merespons tindakan Iran dengan beberapa langkah strategis:
-
Keamanan Energi: Memerintahkan pembangunan cepat jalur pipa minyak dan gas bersama untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.
-
Pertahanan Regional: Membangun sistem peringatan dini guna menangkal ancaman rudal balistik di kawasan tersebut.
-
Kebebasan Navigasi: Menuntut jalur air tersebut tetap menjadi perairan bebas bagi perdagangan global.
Mekanisme Pungutan Iran: Kripto dan Yuan
Meskipun ditolak secara internasional, Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan telah menerima pendapatan pertama dari tarif tersebut.
-
Metode Pembayaran: Iran mewajibkan pembayaran di muka menggunakan mata uang kripto atau mata uang China, Yuan.
-
Klaim Teheran: Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamidreza Hajibabaei, mengonfirmasi bahwa dana hasil pungutan tersebut telah mulai masuk ke rekening Bank Sentral Iran, meski jumlah pastinya tidak disebutkan.
Strategi Donald Trump: Blokade Laut sebagai Senjata Utama
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memilih untuk memperpanjang blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah ini diambil sebagai strategi untuk memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz tanpa gangguan.
-
Pertimbangan Risiko: Pejabat AS menyebut Trump menganggap mempertahankan blokade memiliki risiko lebih rendah dibandingkan melanjutkan kampanye pengeboman atau meninggalkan konflik sama sekali.
-
Kebuntuan Diplomasi: Pembicaraan antara AS dan Iran yang berlangsung di Pakistan dilaporkan tidak membuahkan hasil, sementara perang yang pecah sejak 28 Februari 2026 tersebut belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Pengecualian bagi Rusia
Menariknya, di tengah ketegangan ini, Iran dilaporkan memberikan perlakuan khusus kepada Rusia. Kapal-kapal Rusia, termasuk kapal pesiar milik miliarder negara tersebut, terpantau melintasi Selat Hormuz tanpa gangguan dan dibebaskan dari pungutan tarif.
Dampak Global yang Menghawatirkan
Blokade dan pungutan liar di Selat Hormuz telah mengguncang pasar energi global, mengingat seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur ini. Ketegangan ini diperkirakan akan memicu kerusakan ekonomi berkepanjangan jika jalur pipa alternatif tidak segera diselesaikan oleh negara-negara Teluk.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:
https://youtu.be/Jg8rOFS8ahc?si=X_ER38dgG4saCX_v






