Jurnal Pelopor – Kualitas udara di Palembang, Sumatera Selatan, memburuk akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pada Senin (12/10/2026) pukul 08.00 WIB, indeks kualitas udara kota tersebut mencapai 379 berdasarkan pemantauan IQAir. Angka itu masuk kategori berbahaya dan menjadi peringatan atas risiko kesehatan yang mengancam masyarakat.
Indeks Kualitas Udara Palembang Tembus 379
Berdasarkan laporan detikHealth yang mengutip pemantauan IQAir, kondisi udara Palembang menunjukkan tingkat pencemaran yang sangat tinggi. Bahkan, salah satu stasiun pemantauan di kawasan Musi 2 mencatat indeks kualitas udara mencapai 638. Angka tersebut menunjukkan kondisi udara yang sangat buruk di lokasi pemantauan tersebut.
Kabut asap yang menyelimuti wilayah itu berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan yang masih terjadi di sejumlah daerah. Asap kebakaran membawa partikel halus dan berbagai polutan yang dapat membahayakan kesehatan. Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan.
Asap Karhutla Mengancam Kesehatan Pernapasan
Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, dr. Then Suyanti, menjelaskan bahwa asap karhutla mengandung sejumlah polutan berbahaya. Beberapa di antaranya adalah partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun. Paparan polutan tersebut dapat memperburuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), asma, serta gangguan pernapasan lainnya.
Dampak kabut asap tidak hanya menyerang sistem pernapasan. Paparan asap juga dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan lainnya. Anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki penyakit pernapasan perlu mendapat perhatian khusus karena lebih rentan mengalami dampak paparan polusi.
Risiko Penyakit Jantung Juga Perlu Diwaspadai
Partikel halus dalam asap kebakaran hutan juga berkaitan dengan risiko gangguan kardiovaskular. American Heart Association (AHA) menyoroti hubungan antara paparan polusi partikel halus dan peningkatan risiko masalah jantung. Dampak tersebut menunjukkan bahwa kabut asap bukan sekadar persoalan jarak pandang atau ketidaknyamanan saat bernapas.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American Heart Association melaporkan bahwa paparan asap kebakaran hutan yang pekat dapat meningkatkan risiko henti jantung di luar rumah sakit hingga 70 persen. Penelitian tersebut juga menyoroti dampak pada kelompok usia 35–64 tahun, baik laki-laki maupun perempuan. Temuan ini memperkuat pentingnya perlindungan terhadap masyarakat selama periode pencemaran udara tinggi.
Masyarakat Perlu Mengurangi Paparan Asap
Ketika kualitas udara berada pada kategori berbahaya, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menghindari olahraga di area terbuka. Penggunaan masker respirator yang sesuai, seperti N95, dapat membantu mengurangi paparan partikel halus apabila digunakan dengan benar. Masyarakat juga perlu menjaga kualitas udara di dalam rumah dan mengikuti informasi resmi dari instansi terkait.
Orang yang mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gejala berat lainnya perlu segera mencari pertolongan medis. Sementara itu, pemerintah dan petugas terkait perlu terus menangani sumber kebakaran serta memantau perkembangan kualitas udara. Penanganan karhutla menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan masyarakat dan mencegah dampak pencemaran meluas.
Kondisi Palembang menjadi pengingat bahwa karhutla tidak hanya merusak hutan, tetapi juga dapat mengancam keselamatan manusia. Menurut Anda, langkah apa yang harus diprioritaskan pemerintah untuk melindungi warga ketika kualitas udara mencapai tingkat berbahaya?
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







