Jurnal Pelopor — Usulan agar Timnas Italia menggantikan posisi Iran di Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko mendapat respons negatif dari dalam negeri Italia sendiri. Para pejabat tinggi olahraga Italia lebih memilih menelan pahitnya kegagalan di lapangan daripada lolos karena faktor non-teknis.
1. Prinsip “Lolos di Lapangan”
Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi, menegaskan bahwa hak untuk tampil di Piala Dunia hanya bisa didapatkan melalui hasil pertandingan.
-
Harga Diri: Abodi menganggap tidak layak bagi tim sebesar Azzurri untuk berangkat ke Piala Dunia setelah kalah di babak playoff melawan Bosnia.
-
Sikap Tegas: “Sebuah tim seharusnya lolos di lapangan,” ujarnya singkat namun padat.
2. NOC Italia Merasa Tersinggung
Presiden Komite Olimpiade Nasional (NOC) Italia, Luciano Buonfiglio, bahkan mengeluarkan pernyataan yang lebih keras.
-
Tidak Pantas: Ia menganggap ide tersebut tidak masuk akal dan cenderung merendahkan martabat sepak bola Italia.
-
Pernyataan: “Pertama, saya tidak berpikir itu mungkin terjadi. Kedua, saya justru merasa tersinggung,” ucap Buonfiglio. Baginya, Italia harus menerima kenyataan bahwa mereka memang tidak layak tampil kali ini secara teknis.
3. Asal Mula Usulan: Lobi Paolo Zampolli
Ide kontroversial ini awalnya dicetuskan oleh Paolo Zampolli, seorang utusan Donald Trump kelahiran Italia.
-
Upaya Lobi: Zampolli mengaku telah mendekati Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino dengan proposal untuk mencoret Iran (karena alasan ketegangan geopolitik) dan memberikan slot tersebut kepada Italia sebagai tim peringkat FIFA tertinggi yang tidak lolos.
Situasi Iran: Tetap Siap 100 Persen
Di sisi lain, Pemerintah Iran melalui Menteri Olahraganya memastikan bahwa Team Melli (julukan Timnas Iran) tetap bersiap secara maksimal untuk tampil di Piala Dunia 2026. Mereka mengabaikan tekanan politik dan tetap berpegang pada hak mereka yang sudah lolos secara sah lewat kualifikasi zona Asia.
Sikap menteri dan presiden NOC Italia ini mendapat pujian dari banyak pecinta sepak bola karena dianggap menjaga integritas olahraga. Menggantikan tim yang sudah lolos kualifikasi hanya karena alasan politik dianggap bisa menciptakan preseden buruk bagi turnamen di masa depan.
Mengingat Italia sudah gagal lolos ke Piala Dunia tiga kali berturut-turut (2018, 2022, 2026), menurut Anda apakah sikap “jual mahal” ini adalah keputusan yang tepat untuk menjaga mentalitas juara mereka, atau seharusnya mereka memanfaatkan celah apa pun demi kembalinya prestise Azzurri di panggung dunia?
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:
https://youtu.be/Jg8rOFS8ahc?si=X_ER38dgG4saCX_v







