Jurnal Pelopor – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam pada perdagangan Senin (12/10/2026). Indeks merosot 2,5% ke level 5.940 pada pukul 14.43 WIB, seiring pelemahan yang melanda seluruh sektor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Analis menilai koreksi tersebut dipengaruhi kombinasi tekanan global, arus modal asing, dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Yield Obligasi AS dan Penguatan Dolar Menekan IHSG
Senior Market Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji, menjelaskan bahwa pelemahan IHSG dipengaruhi faktor eksternal dan dinamika arus modal domestik. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun yang masih tinggi serta penguatan Indeks Dolar AS (DXY) mendorong tekanan terhadap aliran dana investor asing di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut turut memengaruhi pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar.
“Aksi jual bersih oleh investor asing terpantau masih melanda saham-saham berkapitalisasi besar (big-cap),” ujar Nafan kepada Liputan6.com.
Selain itu, pergerakan harga komoditas global turut memengaruhi sentimen investor. Pelaku pasar juga cenderung menunggu rilis data ekonomi Amerika Serikat dan kejelasan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve. Ketidakpastian tersebut membuat investor lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Konflik Timur Tengah Tambah Tekanan Pasar
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyoroti perkembangan geopolitik di Timur Tengah sebagai salah satu faktor yang membebani pasar saham. Ia menyebut konflik kembali memanas setelah kelompok Houthi menyerang Arab Saudi, disertai perkiraan keterlibatan Amerika Serikat dalam membantu Arab Saudi. Perkembangan tersebut menambah ketidakpastian yang dihadapi investor global.
Herditya juga mengatakan pelaku pasar menantikan rilis data inflasi China dan Amerika Serikat yang dijadwalkan pada 14 Oktober 2026. Menurutnya, arah pergerakan IHSG masih berada dalam tren melemah atau downtrend. Ia menilai kewajaran koreksi perlu dilihat berdasarkan perkembangan pasar dan sentimen yang memengaruhinya.
Sebanyak 619 Saham Melemah
Tekanan pasar terlihat dari dominasi saham yang berakhir di zona merah. Berdasarkan data perdagangan yang dikutip Liputan6.com, sebanyak 619 saham melemah, sedangkan 112 saham menguat dan 61 saham tidak berubah. Pada sesi kedua, IHSG bergerak di rentang tertinggi 6.128 dan terendah 5.921,70.
Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 1.505.001 kali dengan volume perdagangan mencapai 52,3 miliar saham. Nilai transaksi harian mencapai Rp9,7 triliun. Sementara itu, dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp17.898.
Seluruh Sektor Saham Berada di Zona Merah
Pelemahan terjadi di seluruh sektor saham. Sektor energi mencatat penurunan terdalam sebesar 5,11%, disusul sektor infrastruktur yang melemah 4,36% dan sektor industri sebesar 3,89%. Sektor bahan baku juga terkoreksi 3,18%, sedangkan sektor teknologi turun 2,66%.
Sektor konsumen siklikal melemah 2,57% dan transportasi turun 2,4%. Adapun sektor properti terkoreksi 1,58%, keuangan turun 1,16%, kesehatan melemah 1,05%, serta konsumen non-siklikal turun 0,98%. Pelemahan serentak tersebut menunjukkan luasnya tekanan yang terjadi di pasar saham pada perdagangan hari itu.
Analis Sarankan Investor Tetap Selektif
Menghadapi kondisi pasar yang bergejolak, Nafan menyebut strategi buy on weakness dapat dipertimbangkan secara bertahap pada saham berfundamental kuat yang mengalami koreksi harga. Strategi tersebut berarti membeli saham ketika harganya melemah, dengan tetap memperhatikan kualitas perusahaan dan risiko investasi. Ia juga menilai diversifikasi ke saham sektor defensif dengan rekam jejak pembagian dividen dapat menjadi salah satu pertimbangan.
Meski demikian, investor perlu menyesuaikan keputusan dengan profil risiko, tujuan investasi, dan kondisi keuangan masing-masing. Pergerakan IHSG selanjutnya akan turut dipengaruhi perkembangan geopolitik, data ekonomi global, nilai tukar rupiah, serta arus modal asing. Menurut Anda, apakah koreksi IHSG ini membuka peluang membeli saham berfundamental kuat, atau investor sebaiknya menunggu pasar lebih stabil?
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







