Jurnal Pelopor — Sebuah sumber mata air yang dulu memicu penolakan warga kini berubah menjadi motor penggerak ekonomi desa. Pemandian Sumur Amber di Desa Kandangan, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, berhasil dikembangkan menjadi destinasi wisata oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Podo Makmur dengan omzet mencapai sekitar Rp800 juta.
Keberhasilan tersebut tidak diraih secara instan. Sebelum menjadi objek wisata, rencana pemanfaatan mata air Sumur Amber sempat ditentang para petani yang khawatir pasokan air irigasi untuk sawah mereka akan berkurang.
Sempat Ditolak Petani
Gagasan menjadikan Sumur Amber sebagai tempat wisata muncul pada masa kepemimpinan Kepala Desa Kandangan Wahyu Eko Nurdianto. Namun, sebagian petani menolak karena sumber mata air itu telah lama menjadi andalan irigasi pertanian.
Penolakan bahkan sempat memicu ketegangan di tengah masyarakat. Untuk meredam konflik, pemerintah desa bersama para pemuda melakukan dialog dan pendekatan secara bertahap kepada kelompok tani.
Manajer Operasional BUMDes Podo Makmur, Amirulloh Abas, mengatakan para petani akhirnya menerima rencana tersebut setelah mendapat jaminan bahwa kebutuhan air irigasi tetap menjadi prioritas.
Dirintis dengan Gotong Royong
Pembangunan kawasan wisata dimulai dengan modal sekitar Rp550 juta yang bersumber dari APBDes dan disalurkan secara bertahap. Pemandian Sumur Amber kemudian resmi beroperasi pada Juni 2022.
Pada masa awal pengelolaan, para pengurus BUMDes bekerja secara sukarela tanpa mengutamakan keuntungan pribadi. Semangat gotong royong menjadi modal utama dalam mengembangkan destinasi wisata tersebut.
“Kami waktu itu bekerja secara sukarela untuk merintis usaha pemandian ini. Semua dilakukan bersama-sama dengan tenaga dan pikiran,” ujar Abas.
Omzet Ratusan Juta, Manfaat Kembali ke Warga
Kini, kerja keras tersebut membuahkan hasil. Wisata Pemandian Sumur Amber berkembang menjadi salah satu sumber pendapatan desa dengan omzet mencapai sekitar Rp800 juta.
Direktur BUMDes Podo Makmur, Andri Suprayoga, menjelaskan keuntungan usaha tidak hanya disetorkan sebagai Pendapatan Asli Desa (PADes), tetapi juga dikembalikan kepada masyarakat melalui berbagai program sosial.
BUMDes antara lain memberikan bantuan pompa air listrik kepada kelompok tani serta membagikan sekitar 1.200 paket sembako kepada seluruh keluarga di tiga dusun di Desa Kandangan.
Raih Penghargaan Tingkat Jawa Timur
Keberhasilan mengelola potensi desa tersebut mengantarkan BUMDes Podo Makmur meraih Juara I kategori BUMDes Cepat Tumbuh pada Lomba BUMDes Tingkat Jawa Timur 2024.
Kisah Pemandian Sumur Amber menjadi contoh bagaimana kolaborasi pemerintah desa, pemuda, dan masyarakat mampu mengubah potensi alam menjadi sumber ekonomi baru tanpa mengorbankan kebutuhan sektor pertanian.
Keberhasilan ini juga menunjukkan bahwa pengelolaan BUMDes yang profesional tidak hanya mampu meningkatkan pendapatan desa, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat melalui berbagai program sosial dan pemberdayaan ekonomi.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:
https://youtu.be/Jg8rOFS8ahc?si=X_ER38dgG4saCX_v


