Jurnal Pelopor – Banjir bandang menerjang sejumlah wilayah di Kota Padang, Sumatera Barat, pada Sabtu (10/10/2026). Derasnya aliran air merendam sedikitnya 120 rumah dan memaksa ratusan warga mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Tim SAR gabungan dikerahkan untuk mengevakuasi warga yang terjebak banjir, terutama di kawasan permukiman yang terdampak cukup parah.
Berdasarkan data sementara, sebanyak 498 jiwa terdampak banjir yang melanda Kecamatan Kuranji, Koto Tangah, dan Nanggalo. Sejumlah kelurahan yang dilaporkan terdampak meliputi Kuranji, Lubuk Minturun, Koto Panjang Ikua Koto, Batipuh Panjang, Tabing Banda Gadang, dan Gurun Laweh.
Ratusan Warga Terdampak, Lumin Park Jadi Salah Satu Lokasi Evakuasi
Proses evakuasi berlangsung di sejumlah titik terdampak. Tim SAR gabungan, termasuk personel Brimob Polda Sumatera Barat, membantu warga keluar dari kawasan yang terendam dan memindahkan mereka ke lokasi yang lebih aman.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Perumahan Lumin Park di Lubuk Minturun. Berdasarkan data yang dibagikan melalui akun Instagram @pusdalopskotspadang pada Minggu (11/10/2026), sebanyak 178 jiwa di kawasan tersebut terdampak banjir.
Selain itu, banjir juga berdampak pada warga di beberapa lokasi lainnya. Sebanyak 30 jiwa terdampak di Perumahan Abi, Koto Panjang Ikua Koto, 20 jiwa di Lapau Munggu, Kelurahan Kuranji, serta lima jiwa di Guo, Kelurahan Kuranji. Sementara itu, lima jiwa lainnya tercatat terdampak di Kampung Apa, Koto Panjang Ikua Koto.
Derasnya aliran air juga menyebabkan akses jalan masyarakat di kawasan Guo, Kecamatan Kuranji, terputus. Kondisi tersebut berpotensi menghambat aktivitas warga sekaligus menyulitkan akses menuju sejumlah lokasi terdampak.
Warga Diminta Waspada Banjir Susulan dan Longsor
Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya bencana susulan. Potensi bahaya yang perlu diantisipasi antara lain banjir, banjir bandang, tanah longsor, hingga pohon tumbang.
Masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai, daerah rawan banjir, serta kawasan dengan kondisi tanah labil diminta terus memantau perkembangan situasi di lingkungan masing-masing.
Warga juga diimbau segera menjauhi lokasi berbahaya apabila terjadi peningkatan debit air atau muncul tanda-tanda potensi longsor. Langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko jatuhnya korban apabila kondisi cuaca dan lingkungan kembali memburuk.
Di tengah proses penanganan banjir, keselamatan warga menjadi prioritas utama. Masyarakat diharapkan mengikuti arahan petugas dan tidak memaksakan diri melintasi jalan maupun aliran air yang deras demi menghindari risiko yang lebih besar.
Hingga Minggu (11/10/2026), data yang dilaporkan masih bersifat sementara. Pemantauan dan penanganan di wilayah terdampak diperlukan untuk memastikan kebutuhan warga serta mengantisipasi kemungkinan bertambahnya dampak banjir.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







