Jurnal Pelopor – Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memicu kecelakaan beruntun di Jalan Gubernur Syarkawi atau Jalan Lingkar Utara, jalur Handil Bakti menuju Sungai Tabuk, Kalimantan Selatan, Minggu (11/10/2026) sekitar pukul 06.00 WITA. Dua mobil pribadi dilaporkan menabrak truk yang berada di depannya akibat jarak pandang pengemudi yang terbatas.
Beruntung, dalam insiden tersebut, pengemudi dan penumpang kendaraan yang dilaporkan terlibat tidak mengalami cedera. Meski demikian, kejadian ini menjadi peringatan bagi pengguna jalan agar lebih berhati-hati saat melintasi kawasan yang diselimuti kabut asap, terutama pada pagi hari.
Kabut Asap Pekat Batasi Jarak Pandang Pengemudi
Kabut asap tebal yang menyelimuti kawasan Lingkar Utara membuat jarak pandang pengendara menurun drastis. Kondisi tersebut menyulitkan pengemudi untuk melihat kendaraan di depan dan mengantisipasi potensi tabrakan.
Berdasarkan laporan Suar Indonesia, kecelakaan melibatkan sejumlah kendaraan, termasuk mobil jenis minibus, Kijang, dan truk. Asap yang berasal dari kebakaran lahan di sekitar jalur Trans-Kalimantan diduga menjadi faktor pemicu insiden tersebut.
Wilayah perbatasan Banjarmasin dan Kabupaten Banjar dilaporkan mengalami peningkatan kabut asap, khususnya menjelang subuh hingga pagi hari. Kondisi ini meningkatkan risiko kecelakaan, terutama ketika kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi atau tidak menjaga jarak aman.
Pengguna jalan diimbau mengurangi kecepatan, menjaga jarak antarkendaraan, serta menyalakan lampu utama atau lampu kabut agar kendaraan lebih mudah terlihat oleh pengendara lain.
Karhutla di Kabupaten Banjar Bakar 6.301 Hektare Lahan
Di balik kabut asap yang mengganggu lalu lintas, kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Banjar juga menimbulkan dampak serius bagi masyarakat. Pemerintah Kabupaten Banjar bahkan telah menaikkan status penanganan karhutla dari siaga menjadi tanggap darurat.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Banjar, luas lahan yang terbakar sejak 15 Juli hingga awal Oktober 2026 mencapai sekitar 6.301 hektare. Kebakaran tersebut tersebar di 19 kecamatan.
Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar, H Yudi Andrea, menyebut peningkatan status dilakukan setelah mempertimbangkan besarnya dampak kebakaran, termasuk perkembangan titik panas yang berpotensi memicu kebakaran lebih luas.
Dampak karhutla tidak hanya berupa kerusakan lahan. Kekeringan juga melanda 72 desa di 16 kecamatan, sehingga masyarakat menghadapi persoalan keterbatasan air bersih.
Selain itu, kabut asap turut mengancam kesehatan warga. BPBD Kabupaten Banjar mencatat sebanyak 798 warga mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Ratusan Sekolah Terdampak Kabut Asap
Memburuknya kualitas udara juga mengganggu kegiatan belajar mengajar di Kabupaten Banjar. Sejumlah sekolah terpaksa menyesuaikan aktivitas pembelajaran untuk mengurangi risiko paparan asap terhadap siswa.
Berdasarkan laporan Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar, sebanyak 127 sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara penuh dari rumah. Sementara itu, 17 sekolah menjalankan PJJ kombinasi dengan pengaturan jam masuk siang.
Sebanyak 300 sekolah lainnya melakukan penyesuaian atau pergeseran jam masuk agar siswa tidak terlalu banyak terpapar kabut asap pada pagi hari.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla telah meluas ke berbagai sektor, mulai dari keselamatan lalu lintas, kesehatan masyarakat, hingga pendidikan.
Penanganan Karhutla Diperluas ke Sejumlah Wilayah
Untuk mengatasi kebakaran yang terus menimbulkan kabut asap, BPBD Kalimantan Selatan memperluas penanganan dengan melibatkan perusahaan pertambangan, perkebunan, kehutanan, serta kelompok pemadam kebakaran swadaya.
Kepala BPBD Kalimantan Selatan, Ronny Eka Saputra, menjelaskan bahwa kawasan Gambut dan Jalan Gubernur Syarkawi menjadi salah satu prioritas penanganan. Asap dari kawasan tersebut diketahui terbawa angin ke arah barat daya hingga mencapai Kota Banjarmasin.
Upaya penanganan bersama diawali di kawasan Gunung Pematang, Jalan Gubernur Syarkawi, Kabupaten Banjar. Kegiatan tersebut direncanakan berlangsung sekitar satu minggu hingga 10 hari ke depan.
Perusahaan yang terlibat diharapkan memberikan dukungan berupa personel, sarana, dan peralatan sesuai kebutuhan di lapangan.
Kecelakaan beruntun di Lingkar Utara menjadi salah satu dampak nyata kabut asap yang perlu diwaspadai. Selama karhutla belum tertangani sepenuhnya, masyarakat diharapkan tetap berhati-hati saat berkendara dan mengikuti imbauan petugas demi menjaga keselamatan bersama.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:






