Jurnal Pelopor – Ayatulloh (41) tidak pernah membayangkan warung gorengan dan kopi yang ia jalankan selama hampir 10 tahun akan menjadi bagian dari perjalanan menuju kursi kepala desa. Pria asal Desa Pahlawan Setia, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, itu kini terpilih sebagai Kepala Desa Pahlawan Setia.
Sebelum mengikuti Pemilihan Kepala Desa (Pilkades), Ayatulloh menjalani kehidupan sederhana. Setiap hari, ia berjualan gorengan dan kopi mulai pukul 15.00 WIB hingga dini hari.
Dari usaha tersebut, ia memperoleh penghasilan sekitar Rp200.000 hingga Rp300.000 per hari. Warung kecil itu menjadi sumber pemasukan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun, warung tersebut ternyata memiliki peran lain. Ayatulloh sering berbincang dengan warga yang datang membeli gorengan maupun kopi.
Dari percakapan sehari-hari itu, ia mendengar berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Kedekatan tersebut kemudian membuat sejumlah warga mendorongnya untuk maju sebagai calon kepala desa.
“Selama hampir 10 tahun dagang di warung, banyak saudara yang berbicara. Katanya, udah nyalon aja lu besok. Jadi istilahnya saya diusung sama warga,” ujar Ayatulloh saat ditemui di kediamannya, Jumat (25/9/2026).
Pernah Jadi Buruh Pabrik
Sebelum menjadi pedagang gorengan, perjalanan pekerjaan Ayatulloh juga cukup panjang. Ia sempat bekerja sebagai buruh pabrik. Ketika perusahaan hendak memindahkannya ke Kalimantan, Ayatulloh memilih tidak mengambil kesempatan tersebut. Keputusan itu membuatnya berhenti bekerja tanpa mendapatkan pesangon.
Ia kemudian mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ayatulloh sempat menjadi pembantu tukang bangunan atau kenek. Setelah itu, ia memilih berjualan gorengan dan kopi. Usaha sederhana tersebut terus dijalankannya hingga bertahan hampir satu dekade.
Pada 2018, Ayatulloh mendapat kesempatan bekerja di Pemerintah Desa Pahlawan Setia. Ia dipercaya menjadi staf perencanaan pembangunan desa. Meski sudah bekerja di kantor desa, ia tetap menjalankan usaha gorengan dan kopi. Penghasilan dari warung digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.
Rutinitas tersebut juga membuat Ayatulloh tetap dekat dengan masyarakat. Pagi hingga siang ia bekerja di kantor desa, sementara sore hingga dini hari kembali berjualan.
Dari Warung hingga Maju Pilkades
Interaksi dengan warga yang terus berlangsung membuat Ayatulloh semakin memahami berbagai persoalan di desanya. Keinginan untuk ikut membangun Pahlawan Setia pun semakin kuat. Selain dorongan warga, ia juga mendapat dukungan dari orangtua dan keluarganya. Dukungan tersebut akhirnya membuat Ayatulloh berani mengikuti Pilkades Pahlawan Setia.
Perjalanannya menuju pemilihan tidak lepas dari keraguan sebagian orang. Latar belakangnya sebagai pedagang gorengan dan keterbatasan modal sempat menjadi bahan cibiran.
Namun, Ayatulloh tetap maju. Ia membawa pengalaman berinteraksi langsung dengan warga, termasuk selama menjalankan usaha dan bekerja di pemerintahan desa. Kini, pria yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai penjual gorengan dan kopi itu mendapat kepercayaan untuk memimpin Desa Pahlawan Setia.
Kisah Ayatulloh menunjukkan bahwa perjalanan menuju jabatan publik tidak selalu dimulai dari kehidupan yang serba berkecukupan. Dalam kasusnya, kedekatan dengan warga justru tumbuh dari sebuah warung sederhana tempat ia mencari nafkah setiap hari.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







