Jurnal Pelopor – Kasus keracunan setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, memasuki babak baru. Hasil pemeriksaan laboratorium menemukan sejumlah bakteri pada beberapa sampel makanan yang dikonsumsi para siswa.
Pemeriksaan tersebut dilakukan setelah ratusan siswa mengalami dugaan keracunan pada 13 Agustus 2026. Sampel makanan dan muntahan siswa kemudian diperiksa oleh UPTD Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Sumatera Utara untuk mengetahui kemungkinan penyebab kejadian tersebut.
Sekretaris Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Hamid Rizal Lubis, membenarkan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium telah selesai dan diserahkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Karo untuk ditindaklanjuti.
“Benar, hasil laboratoriumnya sudah keluar. Kami sudah kirim hasilnya ke Dinas Kesehatan Kabupaten Karo,” kata Hamid, Selasa (8/9/2026).
Empat Sampel Ditemukan Mengandung Bakteri
Dari 11 sampel yang diperiksa, laboratorium menemukan empat sampel yang dinyatakan positif mengandung bakteri tertentu. Temuan tersebut berasal dari beberapa jenis makanan yang dibagikan kepada siswa melalui program MBG.
Sampel nasi yang diambil dari sekolah ditemukan mengandung Bacillus cereus. Sementara itu, dencis saus yang juga diambil dari sekolah diketahui mengandung Staphylococcus aureus.
Temuan lainnya berasal dari buah melon yang dibagikan kepada siswa. Sampel melon tersebut dinyatakan positif mengandung Escherichia coli atau E. coli, bakteri yang menjadi salah satu parameter penting dalam pemeriksaan keamanan pangan.
Selain sampel makanan, bakteri Staphylococcus aureus juga ditemukan dalam sampel muntahan salah seorang siswi yang diperiksa oleh laboratorium.
Meski demikian, hasil pemeriksaan tersebut belum secara langsung menjelaskan seluruh rangkaian penyebab keracunan. Dinas Kesehatan Sumatera Utara menyerahkan penjelasan dan interpretasi lebih lanjut kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Karo sebagai pihak yang meminta pemeriksaan.
Sebelas Sampel Diperiksa
Pemeriksaan laboratorium dilakukan sehari setelah kejadian keracunan. Laboratorium menerima seluruh sampel pada Jumat, 14 Agustus 2026, setelah kasus terjadi pada 13 Agustus.
Total terdapat 11 sampel yang diperiksa. Sampel tersebut terdiri dari nasi yang berasal dari sekolah dan dapur, dencis saus dari sekolah dan dapur, tahu goreng saus dari sekolah dan dapur, sayuran dari sekolah dan dapur, serta melon dari sekolah dan dapur.
Selain makanan, petugas juga memeriksa sampel muntahan salah seorang siswa. Seluruh sampel kemudian diuji menggunakan empat parameter bakteri yang berbeda untuk melihat kemungkinan adanya kontaminasi.
Keempat parameter tersebut meliputi Salmonella, Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi mikrobiologis makanan dan sampel yang berkaitan dengan kejadian keracunan.
Hasil pemeriksaan laboratorium kemudian ditandatangani Kepala UPTD Laboratorium Kesehatan Sumatera Utara pada 16 Agustus 2026. Setelah itu, hasil resmi dikirimkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Karo.
Hamid mengatakan pihaknya tidak memberikan penjelasan lebih jauh mengenai interpretasi hasil pemeriksaan tersebut. Menurutnya, Dinas Kesehatan Karo memiliki kewenangan untuk menyampaikan detail hasil kepada publik karena pemeriksaan tersebut dilakukan atas permintaan mereka.
Polisi Masih Melakukan Penyelidikan
Kasus keracunan makanan MBG di Karo tidak hanya menjadi perhatian dinas kesehatan. Aparat kepolisian juga masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui rangkaian kejadian dan kemungkinan adanya kelalaian dalam proses penyediaan makanan.
Kabid Humas Polda Sumatera Utara Kombes Ferry Walintukan mengatakan perkara tersebut masih berada dalam tahap penyelidikan di Polres Tanah Karo.
Dengan adanya hasil laboratorium yang menemukan E. coli, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus pada sejumlah sampel, penyelidikan diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai sumber kontaminasi dan kaitannya dengan kejadian keracunan yang dialami para siswa.
Temuan laboratorium tersebut menjadi bagian penting dalam proses penanganan kasus. Namun, diperlukan pemeriksaan dan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan bagaimana bakteri tersebut dapat ditemukan pada makanan serta apakah benar menjadi penyebab utama munculnya gejala keracunan pada para siswa.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







