Jurnal Pelopor – Kebakaran hebat melanda kawasan Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, pada Sabtu (22/8/2026) malam. Kobaran api tidak hanya menghanguskan rumah dan bangunan tradisional, tetapi juga memukul aktivitas pariwisata yang selama ini menjadi sumber penghasilan warga. Sekitar 320 pelaku wisata terdampak dan terancam kehilangan mata pencaharian akibat musibah tersebut.
152 Bangunan Hangus Terbakar
Kepala Desa Rembitan Lalu Minakse mengatakan, para pelaku wisata yang terdampak terdiri dari pengrajin tenun, pemandu wisata, hingga masyarakat yang menjalankan berbagai usaha di kawasan Sade.
Kebakaran menghanguskan berbagai bangunan dan fasilitas yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sekaligus daya tarik wisata Sade. Berdasarkan pendataan sementara, sekitar 152 bangunan rata dengan tanah.
Bangunan yang terbakar di antaranya rumah tradisional, berugak, lumbung, museum, masjid, hingga lapak usaha milik masyarakat. Hampir seluruh peralatan dan bahan yang digunakan untuk menunjang kegiatan usaha warga ikut dilalap api.
“Tidak ada yang terselamatkan. Kalau yang di rumah tradisionalnya tidak ada yang terselamatkan. Hanya barang-barang yang berharga saja,” ujar Lalu Minakse, Minggu (23/8/2026).
Api Menjalar dengan Cepat
Besarnya dampak kebakaran tidak lepas dari karakter bangunan tradisional di kawasan Sade yang menggunakan material yang mudah terbakar. Kondisi angin pada malam kejadian juga membuat kobaran api semakin cepat menyebar.
Menurut Lalu Minakse, api awalnya membakar sekitar tiga rumah. Namun, hanya dalam waktu kurang lebih 15 menit, kobaran api telah menjalar ke puluhan bangunan lainnya.
Kebakaran terjadi pada malam hari ketika sebagian besar warga tengah beristirahat. Kondisi tersebut membuat warga harus bergerak cepat untuk menyelamatkan diri sekaligus mengamankan barang-barang yang masih dapat diselamatkan.
“15 menit saya berdiri di situ, sudah bisa menjalar sampai 50 rumah,” ungkapnya.
Kerugian Diperkirakan Puluhan Miliar

Besarnya jumlah bangunan dan aset yang terbakar membuat nilai kerugian diperkirakan sangat besar. Meski demikian, pemerintah desa belum dapat menghitung angka pasti karena proses pendataan masih berlangsung.
Lalu Minakse memperkirakan kerugian akibat kebakaran bisa mencapai puluhan miliar rupiah atau bahkan lebih. Selain kehilangan tempat tinggal, warga juga harus menghadapi persoalan lain karena sejumlah sumber penghasilan mereka ikut musnah.
Saat ini, sebagian warga yang kehilangan tempat tinggal mengungsi ke rumah susun dan rumah keluarga. Pemerintah desa berharap bantuan segera datang agar proses pemulihan dapat dilakukan secepat mungkin.
Berharap Sade Segera Bangkit
Pemerintah desa berharap pemerintah daerah, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, hingga pihak swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan turut membantu membangun kembali kawasan Sade.
Menurut Lalu Minakse, pemulihan tidak sekadar membangun kembali rumah warga. Kawasan wisata tersebut juga perlu segera ditata agar aktivitas pariwisata dan perekonomian masyarakat dapat kembali berjalan.
“Ini yang kita harapkan. Pemerintah daerah, pemerintah provinsi maupun pusat, dan tentunya dari CSR dari ITDC dan segala macam, bisa untuk segera bisa membangun Sade,” katanya.
Sementara itu, penyebab kebakaran belum dapat dipastikan. Pemerintah desa memilih tidak berspekulasi dan masih menunggu hasil pemeriksaan dari pihak terkait.
Kebakaran kali ini disebut menjadi yang terbesar yang pernah terjadi di kawasan Sade. Sebelumnya, kebakaran yang terjadi di kawasan tersebut umumnya hanya melanda dua hingga tiga rumah dan masih dapat segera dikendalikan. Kini, masyarakat menghadapi pekerjaan besar untuk memulihkan kawasan adat sekaligus menghidupkan kembali denyut pariwisata yang menjadi tumpuan ratusan pelaku usaha.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







