Jurnal Pelopor – Sejumlah merek yang masih mudah ditemukan di Indonesia ternyata memiliki sejarah yang sangat panjang. Beberapa di antaranya bahkan telah hadir sejak masa Hindia Belanda dan mampu bertahan hingga lebih dari satu abad.
Dari kecap, rokok, jamu, susu, kopi, hingga margarin, merek-merek tersebut melewati berbagai perubahan zaman dan tetap dikenal masyarakat Indonesia hingga kini.
1. Kecap Cap Istana – 1882
Kecap Cap Istana disebut sebagai salah satu merek tertua di Indonesia. Merek yang berasal dari Tangerang ini telah ada sejak 1882, atau sekitar 144 tahun lalu.
Pabriknya didirikan oleh Teng Hay Soey, pedagang keturunan Tionghoa yang tinggal di sekitar Pasar Lama, Tangerang. Usaha tersebut kemudian diteruskan oleh Teng Giok Seng dan hingga kini masih beroperasi.
Kecap ini juga dikenal sebagai Kecap Benteng, merujuk pada sebutan lama untuk kawasan Tangerang. Proses produksinya disebut masih mempertahankan cara tradisional dan belum sepenuhnya mengandalkan mesin.
2. Dji Sam Soe – 1913
Pada 1913, Liem Seeng Tee mendirikan usaha kecil bernama Handel Maatschappij Liem Seeng Tee. Dari usaha inilah kemudian lahir merek Dji Sam Soe yang kini menjadi bagian dari Sampoerna.
Nama Dji Sam Soe berasal dari pelafalan angka dua, tiga, dan empat dalam bahasa Tionghoa. Produk tersebut berkembang pesat dan pada 1940 produksinya disebut mencapai sekitar 3 juta batang per minggu.
3. Jamu Jago – 1918
Jamu Jago memulai perjalanannya pada 1918 dan dirintis oleh T.K. Suprana. Awalnya, jamu dibuat secara tradisional dan hanya dipasarkan di sekitar tempat usaha di Wonogiri. Seiring waktu, pemasaran meluas ke Solo dan berbagai daerah di Pulau Jawa hingga wilayah Nusantara.
Pada 1945, pusat kegiatan usaha dipindahkan ke Semarang. Lebih dari satu abad kemudian, Jamu Jago masih memproduksi berbagai produk jamu.
4. Njonja Meneer – 1919
Setahun kemudian, muncul Njonja Meneer, salah satu nama legendaris dalam sejarah industri jamu Indonesia. Merek ini berkaitan dengan Lauw Ping Nio yang kemudian dikenal sebagai Njonja Meneer. Pada 1919, ia mulai memproduksi jamu secara sederhana dengan peralatan yang masih sangat manual.
Produknya kemudian semakin dikenal dan dipasarkan ke berbagai daerah. Njonja Meneer bahkan mendapat julukan “Ratu Jamu” karena produknya digunakan oleh berbagai kalangan masyarakat.
5. Frisian Flag – 1922
Berbeda dari sebagian merek lainnya, perjalanan Frisian Flag di Indonesia bermula dari produk yang diimpor dari Belanda. Pada 1922, produk dengan merek Frische Vlag mulai masuk ke Hindia Belanda. Seiring waktu, merek tersebut berkembang dan dikenal luas sebagai Frisian Flag.
Perkembangan besar terjadi ketika pembangunan pabrik di Pasar Rebo, Jakarta, dimulai pada 1969. Produksi susu kental manis kemudian dimulai pada 1971.
6. Kapal Api – 1927
Kapal Api didirikan pada 1927 oleh Go Soe Loet, perantau asal Fujian, China. Setelah tiba di Surabaya, ia melihat besarnya kebiasaan masyarakat mengonsumsi kopi. Ia kemudian merintis usaha kopi dengan memilih, menyangrai, menggiling, dan menjual biji kopi kepada masyarakat.
Nama Kapal Api berkaitan dengan pengalaman Go Soe Loet menaiki kapal uap ketika menuju Jawa. Bisnis tersebut kemudian berkembang di bawah generasi berikutnya dan akhirnya menjadi salah satu produsen kopi terbesar di Indonesia.
7. Bango – 1928
Kecap Bango bermula sebagai industri rumahan di kawasan Benteng, Tangerang, pada 1928. Pasangan Tjoa Pit Boen atau Yunus Kartadinata dan Tjoa Eng Nio awalnya membuat kecap dari garasi rumah mereka.
Perjalanan Bango sempat terhenti pada 1939–1947 akibat kesulitan memperoleh bahan baku selama perang. Setelah kembali berproduksi, pemasaran dilakukan dari pintu ke pintu hingga akhirnya meluas ke berbagai wilayah Indonesia.
Pada 2001, Unilever mengakuisisi Bango. Meski kepemilikannya berubah, merek tersebut tetap bertahan hingga sekarang.
8. Tolak Angin – 1930
Tolak Angin bermula dari racikan jamu tradisional yang dibuat Rakhmat Sulistio pada 1930. Saat itu, Rakhmat bersama suaminya, Siem Thiam Hie, mengelola usaha pemerahan susu bernama Melkrey di Ambarawa. Racikan jamu tersebut kemudian berkembang menjadi produk yang dikenal luas sebagai Tolak Angin.
Pada 1951, mereka mendirikan perusahaan bernama Sido Muncul di Semarang. Dari sinilah Tolak Angin berkembang menjadi salah satu produk jamu paling populer di Indonesia.
9. Bir Bintang – 1931
Sejarah Bir Bintang bermula pada 1931 ketika berdiri NV Nederlandsch-Indische Bierbrouwerijen di Surabaya. Perusahaan tersebut kemudian berkembang dan produknya dikenal luas dengan nama Bir Bintang. Dalam perjalanannya, perusahaan mengalami berbagai perubahan dan mengembangkan sejumlah varian produk.
10. Blue Band – 1934
Blue Band mulai masuk ke Hindia Belanda pada 1934. Saat itu, produk margarin dibutuhkan oleh masyarakat Eropa yang tinggal di wilayah tersebut. Blue Band kemudian berkembang dan menjadi salah satu merek margarin yang dikenal luas. Produk ini juga membangun citra sebagai bagian dari kebutuhan gizi keluarga dengan berbagai kampanye mengenai kandungan vitamin.
Hingga kini, Blue Band masih dapat ditemukan di Indonesia dalam berbagai ukuran dan kemasan.
Merek Tua yang Bertahan di Tengah Perubahan Zaman
Jika dilihat dari tahun awal keberadaannya, Kecap Cap Istana menjadi yang paling tua dalam daftar ini dengan sejarah sejak 1882, disusul Dji Sam Soe, Jamu Jago, dan Njonja Meneer.
Keberlangsungan merek-merek tersebut menunjukkan bagaimana sebuah produk dapat melewati perubahan generasi, teknologi, kondisi ekonomi, hingga perubahan selera konsumen tanpa kehilangan tempat di tengah masyarakat.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







