Jurnal Pelopor — Kenaikan harga ponsel yang terjadi sejak akhir 2025 mulai berdampak serius pada pedagang di berbagai pusat elektronik, termasuk di ITC Kuningan, Jakarta. Lonjakan harga ini dipicu oleh kelangkaan chip global, terutama karena meningkatnya permintaan industri kecerdasan buatan (AI). Akibatnya, harga perangkat baik entry level hingga menengah terus merangkak naik.
Seorang pedagang mengaku penjualannya anjlok drastis hingga 50% dalam dua bulan terakhir. Bahkan, momentum Lebaran yang biasanya mendongkrak penjualan pun tak mampu menyelamatkan kondisi. Tahun ini, penjualan hanya mencapai kurang dari 30 unit, jauh di bawah tahun sebelumnya yang bisa menyentuh 40 unit. Kondisi ini menunjukkan daya beli masyarakat mulai tertekan akibat kenaikan harga yang terus berulang.
Kenaikan Harga Tak Terhindarkan
Penyesuaian harga terjadi hampir di semua lini produk. Ponsel entry level seperti Samsung A07 mengalami kenaikan sekitar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu. Sementara itu, kelas menengah seperti Oppo A6 bahkan melonjak hingga Rp900 ribu. Tak hanya itu, konfigurasi umum 4/64 GB kini sudah menembus harga di atas Rp2 juta, padahal sebelumnya hanya berkisar Rp1,4 juta.
Para pedagang pun mulai memberikan edukasi kepada pembeli bahwa harga kemungkinan masih akan terus naik. Beberapa toko bahkan telah mengalami dua kali kenaikan harga dalam waktu singkat. Hal ini membuat konsumen berpikir ulang untuk membeli, meski sebagian tetap melakukan transaksi karena kebutuhan.
Dampak Krisis Chip Global
Kelangkaan chip menjadi akar utama masalah ini. Permintaan tinggi dari industri AI membuat pasokan komponen seperti DRAM dan NAND semakin terbatas. Kondisi ini berdampak besar pada produsen, terutama di segmen ponsel murah yang memiliki margin tipis.
Firma riset seperti Counterpoint Research mencatat biaya komponen untuk ponsel low-end meningkat hingga 25%. Sementara itu, kelas menengah dan atas juga ikut terdampak dengan kenaikan masing-masing sekitar 15% dan 10%. Bahkan, harga chip memori diprediksi masih akan naik hingga 40% pada kuartal kedua 2026.
Produksi Turun, Pasar Tertekan
Sejumlah produsen besar asal China seperti Xiaomi, Oppo, dan vivo mulai memangkas produksi hingga 20%. Bahkan grup Transsion memperkirakan penurunan pengiriman hingga 70 juta unit.
Penurunan produksi ini semakin mempersempit pasokan di pasar, terutama di kawasan Asia-Pasifik yang didominasi oleh ponsel murah. Akibatnya, tekanan harga semakin sulit dikendalikan.
Masa Depan Pasar HP
Dengan kondisi saat ini, pasar ponsel diprediksi masih akan menghadapi tantangan berat sepanjang 2026. Kenaikan harga, penurunan produksi, serta daya beli yang melemah menjadi kombinasi yang menekan industri dari berbagai sisi.
Jika situasi chip global belum membaik, bukan tidak mungkin harga ponsel akan terus naik, sementara penjualan tetap lesu. Lantas, apakah pasar HP akan pulih dalam waktu dekat, atau justru semakin tertekan?
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







