Jurnal Pelopor — Di tengah kepungan gedung tinggi dan beton ibu kota, kawasan Rorotan, Jakarta Utara, ternyata masih menyimpan oase ekonomi bagi para lansia. Adalah Mat Yasin (68), seorang peternak bebek yang membuktikan bahwa usia senja bukan penghalang untuk tetap produktif dan berpenghasilan fantastis.
Bersama Kelompok Peternak Bebek Rorotan Maju Bersama, Yasin mengelola ratusan ekor bebek di lahan sewa seluas satu hektare di tengah persawahan milik perusahaan swasta.
1. Rincian Ekonomi Ternak Bebek Mat Yasin
Fokus utama peternakan ini adalah produksi telur harian. Berikut adalah rincian kalkulasi bisnis yang dijalankan Mat Yasin:
| Komponen | Detail Angka |
| Jumlah Bebek | 700 ekor |
| Produksi Harian | ± 230 butir telur |
| Harga Jual | Rp2.100 – Rp2.400 per butir |
| Omzet Per Bulan | Rp15.000.000 |
| Biaya Operasional | ± Rp7.500.000 (Pakan, vitamin, sewa lahan) |
| Keuntungan Bersih | Rp7.500.000 per bulan |
2. Strategi Pakan Murah dan Efisien
Rahasia keuntungan yang tetap terjaga di tengah mahalnya pakan pabrikan (pur) adalah kreativitas dalam memilih bahan baku pakan:
-
Roti Bekas: Menggunakan roti yang sudah tidak layak konsumsi manusia namun masih bergizi untuk ternak.
-
Kepala Udang: Sumber protein tinggi yang didapat dengan harga lebih terjangkau.
-
Kebutuhan Harian: Menghabiskan sekitar 50 hingga 70 kg campuran pakan per hari untuk 700 ekor bebek.
3. Dampak Ekonomi Bagi Keluarga
Penghasilan bersih sebesar Rp7,5 juta per bulan yang berada di atas Upah Minimum Provinsi (UMP) Jakarta telah memberikan dampak nyata bagi kehidupan Mat Yasin:
-
Pendidikan: Mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi.
-
Aset: Berhasil membeli kendaraan pribadi dari hasil memanen telur setiap pagi.
-
Kesejahteraan: Memenuhi kebutuhan rumah tangga tanpa bergantung pada bantuan pihak lain di usia 68 tahun.
4. Komunitas Peternak Rorotan
Mat Yasin tidak sendiri. Saat ini terdapat sekitar 30 anggota aktif dalam kelompok peternak tersebut. Mereka memanfaatkan lahan “tidur” di Jakarta Utara dengan biaya sewa yang relatif murah, yakni sekitar Rp100.000 hingga Rp200.000 per bulan. Fenomena ini menunjukkan bahwa sektor agraris perkotaan (urban farming/livestock) masih memiliki potensi besar sebagai penopang ekonomi warga lansia di Jakarta.
Keberhasilan Mat Yasin menunjukkan pentingnya menjaga lahan terbuka di Jakarta untuk kegiatan produktif warga. Namun, dengan status lahan milik swasta, keberlanjutan peternakan ini sangat bergantung pada rencana pembangunan pemilik lahan di masa depan.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







