Jurnal Pelopor — Amerika Serikat kembali meningkatkan tekanan geopolitik di kawasan Amerika Latin. Washington dilaporkan tengah menyiapkan langkah hukum untuk menyita lusinan kapal tanker minyak yang terlibat dalam perdagangan minyak Venezuela, sebuah kebijakan agresif yang menandai eskalasi baru dalam upaya AS menguasai alur distribusi energi negara tersebut sekaligus menekan pemerintahan Caracas.
Operasi Penyitaan Meluas di Laut Internasional
Pemerintah AS disebut telah mengajukan sejumlah permohonan penyitaan sipil ke pengadilan distrik, khususnya di Washington, D.C., guna memberikan dasar hukum bagi penyitaan kapal tanker dan kargo minyak Venezuela. Dalam beberapa pekan terakhir, militer dan Penjaga Pantai AS dilaporkan telah menyita sedikitnya lima kapal di perairan internasional.
Kapal-kapal tersebut diketahui sedang mengangkut minyak Venezuela atau pernah terlibat dalam pengiriman serupa. Langkah ini memperlihatkan perubahan pendekatan Washington, yang kini tidak hanya membidik kargo minyak, tetapi juga menyasar fisik kapal dan armada yang mengoperasikannya.
Target Armada Bayangan
Mayoritas tanker yang menjadi sasaran berada di bawah sanksi AS atau tergolong dalam apa yang disebut sebagai “armada bayangan”. Armada ini merujuk pada kapal-kapal yang beroperasi di luar sistem regulasi internasional, kerap mematikan transponder, mengganti identitas, dan menyamarkan asal muatan.
Model operasi semacam ini selama bertahun-tahun digunakan untuk mengalirkan minyak dari negara-negara yang terkena sanksi berat, seperti Venezuela, Iran, dan Rusia, ke pasar utama, terutama China. Meski demikian, Washington menilai praktik tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap rezim sanksi internasional yang mereka terapkan.
Pasca Penangkapan Maduro
Eskalasi terbaru ini terjadi tidak lama setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS pada 3 Januari lalu. Sejak momen tersebut, pemerintahan Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan rencana untuk mengendalikan sumber daya minyak Venezuela dalam jangka waktu tak terbatas.
AS juga menyebut akan berupaya membangun kembali industri minyak Venezuela yang selama bertahun-tahun terpuruk akibat sanksi, salah urus, dan krisis politik berkepanjangan. Namun, langkah ini dinilai banyak pihak sebagai bentuk pengambilalihan ekonomi yang kontroversial.
Ketegangan Baru dengan Rusia
Situasi kian memanas setelah militer AS menyita tanker Bella-1 pada 7 Januari. Kapal berbendera Rusia itu menjadi kasus pertama dalam sejarah terkini di mana AS menyita langsung kapal milik Moskow di laut lepas.
Pemerintah Rusia mengecam keras tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai penggunaan kekuatan ilegal tanpa dasar hukum internasional yang sah. Moskow juga menilai sanksi sepihak AS tidak memiliki legitimasi global. Meski begitu, Pentagon menegaskan tak akan mengendurkan operasi.
“Kami akan memburu dan menghentikan semua kapal armada gelap yang mengangkut minyak Venezuela, kapan pun dan di mana pun kami tentukan,” tegas juru bicara Pentagon, Sean Parnell.
Dampak Ekonomi dan Nilai Taruhan
Langkah penyitaan ini membawa implikasi ekonomi yang sangat besar. Satu kapal tanker umumnya mengangkut sekitar satu juta barel minyak mentah. Dengan asumsi harga US$75 per barel, nilai kargo dalam satu kapal bisa mencapai US$75 juta atau lebih dari Rp1 triliun.
Pada Desember lalu, AS bahkan sempat memberlakukan blokade yang membuat ekspor minyak Venezuela terhenti total. Meski pengiriman kembali berjalan, seluruh aktivitas kini berada di bawah pengawasan ketat Washington.
Kebijakan ini menandai perubahan signifikan dibanding periode 2020–2023, ketika AS umumnya hanya menyita muatan minyak tanpa menyentuh kapal. Kini, penyitaan fisik tanker menjadi senjata utama, membuka babak baru dalam konflik energi, hukum internasional, dan perebutan pengaruh global.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:






