Jurnal Pelopor – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi pusat perhatian publik setelah sebuah video viral menunjukkan penolakan kiriman makanan oleh salah satu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Pontianak, Kalimantan Barat. Penolakan tersebut terjadi bukan tanpa alasan; armada pengantar makanan baru tiba di lokasi saat jam sekolah telah usai dan para murid sudah pulang ke rumah masing-masing.
Insiden ini memicu diskusi hangat di media sosial mengenai efektivitas distribusi dan standar kualitas menu yang disajikan dalam program prioritas nasional tersebut.
Kronologi Penolakan: Datang Saat Sekolah Kosong
Berdasarkan video yang diunggah oleh akun Instagram @indonesian.core, sebuah mobil boks bertuliskan SPPG TNI AU tampak terparkir di depan sekolah saat suasana sudah sepi. Keterlambatan distribusi ini membuat pihak sekolah memutuskan untuk menolak kiriman makanan tersebut karena target penerima manfaat—yaitu para siswa—sudah tidak berada di tempat.
Namun, faktor waktu ternyata bukan satu-satunya pemicu. Pihak PAUD juga menyoroti adanya akumulasi kekecewaan terhadap kualitas menu yang diberikan pada hari-hari sebelumnya. Hal ini memicu desakan dari masyarakat agar pemerintah dan pihak penyedia melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar gizi dan kesiapan logistik.
Respons TNI AU: Masalah Sudah Ditangani
Menanggapi kegaduhan tersebut, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara (Kadispenau), Marsma Nyoman Suadnyana, mengonfirmasi bahwa kejadian itu memang terjadi di wilayah Pontianak. Meski tidak merinci detail lokasi PAUD yang dimaksud, pihak TNI AU memastikan bahwa kendala tersebut telah ditindaklanjuti secara cepat.
Nyoman menyatakan bahwa Ketua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat beserta Koordinator Wilayah (Korwil) Kubu Raya telah turun tangan untuk menyelesaikan kesalahpahaman dan kendala teknis dengan pihak sekolah. “Sudah ditanggapi oleh Ketua SPPG-nya dan Korwil Kubu Raya dan sudah selesai,” tegas Nyoman pada Kamis (19/2/2026).
Pelajaran bagi Program MBG ke Depan
Insiden ini menjadi catatan penting bagi Badan Gizi Nasional (BGN) dan para mitra penyedia, termasuk TNI AU, dalam mengelola operasional SPPG. Ada tiga poin krusial yang perlu diperhatikan agar kejadian serupa tidak terulang:
-
Ketepatan Waktu (Punctuality): Mengingat jam operasional PAUD/TK lebih singkat dibanding sekolah dasar atau menengah, jadwal distribusi harus disesuaikan secara presisi.
-
Kontrol Kualitas (Quality Control): Menu makanan harus memenuhi standar gizi yang dijanjikan agar tidak menimbulkan kekecewaan bagi pihak sekolah maupun orang tua murid.
-
Koordinasi Logistik: Perlunya sinergi yang lebih kuat antara kurir distribusi dan pihak sekolah untuk memantau keberadaan siswa di lokasi.
Ringkasan Insiden MBG Pontianak
| Aspek | Detail Informasi |
| Lokasi | Pontianak, Kalimantan Barat |
| Pihak Terlibat | PAUD Setempat & SPPG TNI AU |
| Penyebab Utama | Keterlambatan distribusi (murid sudah pulang) |
| Penyebab Tambahan | Keluhan terkait variasi dan kualitas menu |
| Status Terakhir | Sudah ditangani oleh Korwil dan Ketua SPPG setempat |
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







