Jurnal Pelopor – Di tengah stereotip pejabat tinggi yang hidup mewah, sosok Ir. Sutami muncul berbeda. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) era Soekarno hingga Soeharto ini memilih hidup sederhana dan konsisten menolak korupsi selama 14 tahun menjabat.
Hidup Sederhana di Tengah Proyek Raksasa
Sutami menjabat sejak 1964 hingga 1978 dan dikenal sebagai sosok yang menolak segala bentuk pemberian negara yang tidak perlu. Ia bahkan baru memiliki rumah setelah pensiun dan membeli rumah tersebut dengan cicilan.
Staf Ahli menteri Sutami, Hendropranoto, menceritakan,
“Sutami sering berjalan kaki ketika mengunjungi pelosok, bukan karena tak mampu naik kendaraan, tapi karena ia tak ingin merepotkan orang dan ingin langsung melihat kondisi proyek secara nyata.”
Kerendahan Hati yang Membumi
Meski mengurusi proyek besar seperti Tol Jagorawi, Jembatan Semanggi, dan Jembatan Ampera, Sutami tetap rendah hati dan hidup sederhana. Ia tak mengambil uang negara dan bahkan rumah pribadinya baru dimiliki setelah masa jabatan berakhir.
Dalam liputan Tempo (1980), dijelaskan bahwa
“Sutami dikenal sangat merakyat dan sederhana, bahkan disebut ‘Menteri Termiskin’ tanpa merasa tersinggung.”
Pengorbanan Demi Pembangunan dan Rakyat
Sutami rela meninjau proyek dengan berjalan kaki agar lebih efisien dan langsung mengetahui masalah di lapangan. Namun, pola hidup ini berdampak pada kesehatannya yang menurun.
Ia mengidap penyakit liver kronis akibat kelelahan dan kurang gizi. Meski pernah enggan berobat karena khawatir soal biaya, Presiden Soeharto akhirnya memerintahkan agar dia dirawat tanpa biaya. Sayang, pada 13 November 1980, Sutami meninggal dunia.
Warisan Abadi untuk Negeri
Meskipun telah tiada, karya-karya Sutami tetap menjadi bagian penting pembangunan infrastruktur Indonesia yang masih dirasakan manfaatnya hingga kini.
“Sutami bukan hanya membangun jalan dan jembatan, tapi juga membangun kepercayaan bahwa pejabat bisa jujur dan bekerja untuk rakyat,” kata Hendropranoto.
Teladan Pemimpin yang Layak Dicontoh
Sutami adalah contoh nyata bahwa jabatan tinggi tidak harus identik dengan kemewahan dan korupsi. Integritas dan pengabdian tulus kepada rakyat adalah warisan terbesarnya yang tetap relevan hingga saat ini.
Sumber: CNBC Indonesia
Baca Juga:
Singonoyo Cup Meledak! Legenda Persibo Turun Gunung
DPP BKPRMI Dorong Pemerintah Lebih Perhatikan Kesejahteraan Guru Ngaji
DPP BKPRMI Dorong Pemerintah Lebih Perhatikan Kesejahteraan Guru Ngaji
Saksikan berita lainnya:
Demo Besar Tolak Revisi UU TNI: Apa Dampaknya bagi Demokrasi Indonesia?







