Jurnal Pelopor – Keputusan Pemerintah Arab Saudi untuk menghapus sistem kuota haji mulai musim haji berikutnya bisa membawa dampak besar secara global. Meski tujuan utamanya adalah membuka ruang lebih luas bagi jemaah dan meningkatkan pemasukan dari sektor haji, beberapa negara justru berpotensi mengalami kerugian besar, terutama secara ekonomi dan sosial. Berikut ulasan negara-negara yang paling terdampak:
Indonesia – Paling Merugi Secara Administrasi dan Infrastruktur
Sebagai negara dengan kuota haji terbesar di dunia (241.000 pada 2024, dan 221.000 pada 2025), Indonesia sangat bergantung pada sistem kuota untuk mengatur proses seleksi dan pengelolaan jemaah. Penghapusan kuota membuat:
- Sistem antrean haji selama puluhan tahun jadi tak relevan, padahal banyak jemaah sudah menyetor biaya sejak lama.
- Biaya dan mekanisme keberangkatan bisa melonjak akibat sistem terbuka dan potensi komersialisasi besar-besaran.
- Pengelolaan logistik dan kesehatan menjadi lebih kompleks jika jumlah jemaah tak terbatas.
Indonesia berpotensi kehilangan kendali tata kelola haji, yang selama ini sudah dibangun rapi dengan sistem Siskohat, Kemenag, dan BPKH.
2. Pakistan – Rawan Ketimpangan Akses dan Masalah Visa
Pakistan yang mengirimkan 180.000 jemaah pada 2025 bisa terdampak oleh potensi eksploitasi biaya dan kesulitan dalam mengatur prioritas jemaah:
- Jemaah dari wilayah pedalaman bisa tersingkir oleh mereka yang lebih mampu secara finansial.
- Pemerintah akan kesulitan mengontrol travel swasta yang komersial jika tidak ada kuota.
3. India – Risiko Diskriminasi dan Ketegangan Sosial
India, dengan kuota 175.000 jemaah, juga mengandalkan kuota untuk mendistribusikan secara adil ke berbagai negara bagian. Jika kuota hilang:
- Muslim minoritas bisa kesulitan bersaing dalam sistem terbuka.
- Potensi gejolak sosial dan diskriminasi meningkat di tengah ketegangan politik agama di dalam negeri.
4. Bangladesh – Terancam Komersialisasi dan Pengurasan Dana Publik
Bangladesh menghadapi tantangan serupa:
- Tingginya permintaan bisa memicu biaya haji melonjak, membebani ekonomi rakyat kecil.
- Pemerintah terpaksa menarik lebih banyak subsidi jika ingin mempertahankan akses masyarakat kelas bawah.
Negara-Negara Miskin Lainnya: Terjepit Sistem “Siapa Cepat dan Kaya, Dia Berangkat”
Negara-negara berpendapatan rendah di Afrika dan Asia Tengah yang selama ini bergantung pada sistem kuota berisiko tersingkir. Sistem terbuka membuat haji menjadi layanan eksklusif untuk yang berduit, bukan yang berhak secara spiritual dan administratif.
Kesimpulan:
Jika kuota benar-benar dihapus, negara-negara dengan sistem haji publik berbasis antrian dan subsidi seperti Indonesia, Pakistan, dan Bangladesh akan paling dirugikan. Arab Saudi bisa meraup untung besar, tapi kesetaraan akses dan keadilan ibadah haji bisa terancam.
Sumber: CNBC Indonesia
Baca Juga:
Singonoyo Cup Meledak! Legenda Persibo Turun Gunung
Takut Ekonomi Ambruk? Ini Aset Aman Selain Emas
Saksikan berita lainnya:







