Jurnal Pelopor — Gelombang demonstrasi besar-besaran yang melanda Iran sejak 28 Desember 2025 telah memicu bentrokan keras antara aparat keamanan dan para pengunjuk rasa, dengan laporan korban tewas yang sangat tinggi dan memunculkan ingatan akan kekerasan pada era Revolusi Iran 1979. Sejumlah kelompok hak asasi manusia melaporkan ribuan orang tewas dalam penindakan kekerasan yang berlangsung hampir tiga pekan.
Korban Tewas Mencapai Ribuan
Menurut data yang dirilis oleh Human Rights Activists News Agency (HRANA) — sebuah organisasi HAM yang berbasis di Amerika Serikat yang memantau situasi dari dalam Iran — jumlah korban tewas dalam gelombang protes ini telah mencapai setidaknya 2.571 orang hingga pertengahan Januari 2026. Angka tersebut mencakup 2.403 demonstran yang tewas, 147 individu yang berafiliasi dengan pemerintah atau aparat, 12 anak di bawah usia 18 tahun, serta sembilan warga sipil yang tidak terlibat langsung dalam aksi protes. Lebih dari 18.100 orang juga dilaporkan ditahan oleh pihak berwenang.
Angka ini menjadikan penindakan terhadap demonstrasi ini sebagai salah satu yang paling mematikan dalam sejarah Iran modern, melampaui jumlah korban dari banyak unjuk rasa sebelumnya dan kerap dibandingkan dengan kekerasan ketika Revolusi Iran 1979 menggulingkan monarki dan mendirikan Republik Islam di bawah kepemimpinan Ayatollah.
Latar Belakang Protes
Gelombang unjuk rasa awalnya dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi negara, termasuk depresiasi tajam mata uang rial Iran dan memburuknya daya beli masyarakat. Demonstrasi yang dimulai dari kawasan Grand Bazaar Teheran itu menyebar cepat ke berbagai kota besar dan kecil di seluruh 31 provinsi Iran. Aksi yang awalnya berfokus pada keluhan ekonomi itu kemudian berkembang menjadi protes yang lebih luas terhadap pemerintahan teokratis yang telah berkuasa sejak revolusi 1979.
Penindakan dan Tantangan Verifikasi Data
Pihak berwenang Iran sempat memutus akses internet dan layanan komunikasi untuk membatasi penyebaran informasi domestik dan internasional, sehingga angka korban yang dilaporkan organisasi HAM luar negeri menghadapi tantangan dalam verifikasi independen. Meski demikian, rincian seperti jumlah anak yang tewas dan keterlibatan aparat keamanan telah dicatat berdasarkan laporan yang masih dapat diakses dan diverifikasi silang oleh kelompok pemantau tersebut dari sumber di dalam negeri.
Reaksi Internasional dan Politik Domestik
Respons internasional terhadap kekerasan ini bervariasi, dengan beberapa negara mengecam tindakan keras aparat Iran terhadap demonstran. Sementara itu, pemerintah Iran sendiri menuduh kekerasan sebagai akibat dari “aktor teroris” dan pihak luar yang mencoba mengadu domba stabilitas negara. Ketegangan geopolitik pun meningkat, dengan pernyataan dari pejabat asing termasuk ancaman Amerika Serikat untuk mengambil tindakan lebih tegas jika penindakan terus berlanjut.
Kenangan Akan Revolusi 1979
Banyak pengamat menyebutkan situasi ini sebagai salah satu periode paling kritis sejak Revolusi Islam 1979, bukan hanya karena jumlah korban, tetapi juga karena skala protes di hampir seluruh negeri serta tuntutan yang lebih luas terhadap perubahan pemerintahan. Gelombang demonstrasi yang mencapai hampir seluruh provinsi itu mencerminkan ketidakpuasan publik yang jauh melampaui akar masalah ekonomi semata.
Krisis ini masih berkembang, dan angka korban serta dinamika politiknya diperkirakan akan terus diperbarui seiring dengan kondisi di lapangan serta perubahan dalam akses informasi dari dalam Iran.
Baca Juga:
Wow! Negara Komunis Ini Naikkan Tunjangan Guru Sampai 70%
Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos
Saksikan berita lainnya:







