Jurnal Pelopor – Di balik gemerlap prestasi dan semangat juang para atlet disabilitas, kini muncul kisah pilu dari Kabupaten Bekasi. Para atlet yang telah mengharumkan nama daerah bahkan nasional ini kini menghadapi kenyataan pahit: gaji tertunda, nama hilang dari daftar pembinaan, dan harus angkat kaki dari asrama.
Kasus ini mencuat setelah sejumlah video amatir memperlihatkan beberapa atlet disabilitas membawa koper keluar dari asrama atlet di Sukatani, menunggu mobil jemputan tanpa kejelasan status. Salah satunya adalah Indah Permatasari (25), atlet cabang atletik peraih tiga medali emas di Peparda 2022 dan mantan wakil Jawa Barat di Peparnas.
“Nama kami tiba-tiba hilang dari SK pembinaan. Kami bahkan tidak tahu, apakah masih dianggap sebagai atlet NPCI Bekasi atau tidak,” ujar Indah getir.
Dana Besar, Hak Atlet Terabaikan
Persoalan ini tidak main-main. NPCI Kabupaten Bekasi menerima dana hibah Rp7,5 miliar tahun ini, namun belum menyampaikan laporan keuangan ke Pemda. Komisi II DPRD Kabupaten Bekasi menyoroti hal ini dalam rapat dengar pendapat (17/6/2025), meminta laporan neraca keuangan segera diserahkan dalam 10 hari ke depan.
“Kami hanya minta satu hal: penuhi hak atlet,” tegas Ketua Komisi II, Ani Rukmini.
Indah dan beberapa rekannya juga mengungkapkan bahwa uang pembinaan telah tertunda dua bulan. Saat mereka mendatangi kantor NPCI, hanya satu bulan gaji yang dibayarkan tanpa penjelasan.
Takut Bicara, Takut Dicoret
Indah juga mengungkap sisi gelap lain dari dunia pembinaan atlet disabilitas: ketakutan untuk bersuara. Banyak rekannya memilih diam karena khawatir akan dikeluarkan dari daftar atlet.
“Kami hidup dari sini, banyak yang jadi tulang punggung keluarga. Tapi begitu protes, malah dicoret,” katanya lirih.
Ketua NPCI Bekasi, Kardi Leo, mengakui ada keterlambatan pembayaran namun membantah telah mengusir atlet. Menurutnya, pengeluaran atlet dari asrama adalah bagian dari evaluasi prestasi.
“Tidak ada pengusiran. Itu soal penyesuaian prestasi dan data,” kilahnya.
Ruang Prestasi yang Tidak Ramah
Kisah para atlet disabilitas Bekasi ini mengungkap betapa ketimpangan perlakuan terhadap atlet difabel masih nyata. Meski mereka telah menyumbang medali dan kehormatan, hak-hak dasar mereka sering diabaikan.
Kasus ini juga menggambarkan ironi: anggaran besar tidak menjamin perlindungan bagi yang paling rentan. Jika tak segera ditangani, ini bukan hanya soal tunjangan yang tertunda, melainkan juga potensi matinya semangat generasi atlet difabel ke depan.
Apakah negara hanya hadir di podium kemenangan, tapi absen saat atletnya kelaparan?
Sumber: Pikiran Rakyat
Baca Juga:
Singonoyo Cup Meledak! Legenda Persibo Turun Gunung
Takut Ekonomi Ambruk? Ini Aset Aman Selain Emas
Saksikan berita lainnya:







