Jurnal Pelopor – Sidang lanjutan kasus suap dan perintangan penyidikan terkait Harun Masiku yang menyeret Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto kembali mengungkap fakta menarik. Salah satu yang mencuri perhatian publik adalah penyebutan frasa “perintah Ibu” dalam komunikasi yang diduga berasal dari Hasto kepada mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan.
Kronologi Sidang: Frasa “Perintah Ibu” Muncul
Dalam sidang yang digelar di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis (24/4/2025), mantan anggota Bawaslu Agustiani Tio Fridelina memberikan kesaksian yang menyinggung keterlibatan Hasto dalam proses Pergantian Antar Waktu (PAW) Harun Masiku ke DPR.
Jaksa penuntut menunjukkan rekaman percakapan antara Hasto dan Saeful Bahri, mantan kader PDI-P, di mana Hasto disebut menyampaikan pesan:
“Bilang ke Wahyu, ini garansinya saya. Ini perintah dari Ibu. Jadi, bagaimana caranya supaya ini terjadi.”
Tio membenarkan bahwa ada rekaman pernyataan itu dan bahkan mengizinkan jaksa memutarnya untuk verifikasi.
Respons PDI-P: Itu Cuma Klaim Sepihak
Ketua DPP PDI-P Bidang Reformasi Sistem Hukum Nasional, Ronny Talapessy, langsung memberikan klarifikasi. Menurutnya, Saeful Bahri dikenal gemar mencatut nama, termasuk nama-nama petinggi partai.
“Itulah yang kita sebut mencatut nama. Sering mencatut-mencatut nama. Tadi Saudari Tio menyampaikan bahwa Saeful ini memang kebiasaannya membawa-bawa nama orang,” tegas Ronny.
Ia menilai bahwa penyebutan “perintah Ibu” tidak bisa serta-merta diartikan sebagai instruksi dari pimpinan partai, apalagi tanpa konfirmasi langsung. PDI-P meminta agar tidak ada framing yang menyudutkan partai secara struktural, karena secara organisasi mereka hanya menjalankan putusan Mahkamah Agung terkait PAW, tanpa ada kaitan dengan praktik suap.
Fakta-Fakta Tambahan yang Terungkap:
- Hasto disebut sebagai penanggung jawab utama dalam proses PAW Harun Masiku.
- Jaksa mendalami bukti komunikasi antara Hasto, Saeful, dan Wahyu Setiawan.
- Hasto bahkan dituding menalangi dana suap sebesar Rp 1,5 miliar untuk mempercepat proses PAW.
- PDI-P menyebut kasus ini makin terlihat sebagai pesanan politik dan bukan murni hukum.
Sidang Hasto Kristiyanto masih berlanjut, dan publik menanti kejelasan soal siapa yang benar-benar berada di balik skandal Harun Masiku ini.
Sumber: Kompas.com
Baca Juga:
Tanpa Target Juara, Sukorejo FC Bikin Kejutan di Bali 7’s 2025!
Hari Bumi 2025: BKPRMI Galang Aksi Tanam 1 Juta Pohon
Saksikan berita lainnya:







