Jurnal Pelopor – Kerusuhan di Milan, Italia, memicu pengetatan keamanan setelah bentrokan demonstran dengan polisi, penjarahan toko, dan perusakan fasilitas terjadi selama akhir pekan. Sejumlah toko, termasuk gerai di kawasan perbelanjaan mewah, memilih tutup lebih awal untuk mengantisipasi kerusuhan susulan.
Pemerintah Italia berencana mengerahkan tambahan 500 personel tentara untuk menjaga keamanan Milan. Wakil Perdana Menteri Matteo Salvini mengumumkan rencana tersebut pada Senin (19/10/2026), sebagaimana dilaporkan The Guardian dan dikutip Liputan6.com, Selasa (20/10/2026).
Rencana pengerahan pasukan itu diperkirakan menjadi bagian dari paket kebijakan keamanan yang dibahas dalam rapat kabinet. Langkah tersebut diambil ketika pemerintah menghadapi tekanan untuk memulihkan ketertiban di kota yang menjadi pusat keuangan Italia.
Butik Mewah Milan Tutup untuk Antisipasi Penjarahan
Situasi keamanan yang memburuk membuat sejumlah toko di pusat Milan menutup etalase menggunakan papan kayu dan kardus. Beberapa gerai juga memindahkan barang dagangan dari jendela untuk mengurangi risiko kerugian apabila terjadi penjarahan.
Di kawasan Via Montenapoleone, salah satu pusat belanja barang mewah di Milan, polisi terlihat berpatroli. Sementara itu, sejumlah kecil wisatawan masih mengamati situasi di sekitar kawasan tersebut.
Tidak hanya butik mewah, sejumlah peritel lain juga mengambil langkah pencegahan. Rekaman televisi memperlihatkan toko perlengkapan olahraga Decathlon dan Arc’teryx serta gerai operator telekomunikasi Vodafone menjadi sasaran penjarahan. Levi’s dan Under Armour juga termasuk merek yang menutup etalase mereka.
Salvini menegaskan bahwa pemerintah akan mengambil langkah untuk memperkuat keamanan.
“Dari kata-kata ke tindakan: 500 tentara tambahan untuk melindungi Milan,” tulisnya melalui media sosial.
Demonstrasi Biaya Hidup Berujung Kerusuhan
Kerusuhan bermula di tengah gelombang demonstrasi yang awalnya berlangsung damai pada Sabtu. Para demonstran memprotes buruknya layanan publik dan meningkatnya biaya hidup.
Namun, situasi berubah ketika sejumlah orang melakukan perusakan dan penjarahan. Beberapa ratus demonstran bertudung dilaporkan membakar tempat sampah serta menyerang toko-toko di pusat kota. Sebagian besar dari mereka diduga masih berusia di bawah umur.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengecam aksi kekerasan tersebut. Pada Senin, ia memimpin pertemuan dengan sejumlah menteri dan pejabat keamanan untuk membahas perkembangan situasi.
Menteri Luar Negeri Italia sekaligus Wakil Perdana Menteri Antonio Tajani juga menyatakan pemerintah akan merespons tindakan kekerasan dengan tegas, termasuk melalui langkah-langkah untuk menangani pelanggaran yang melibatkan anak di bawah umur.
Menurut laporan Corriere della Sera, pemerintah mempertimbangkan sejumlah kebijakan, antara lain memperpanjang masa penahanan preventif bagi anak di bawah umur dan memperketat penindakan terhadap geng remaja. Pemerintah juga disebut mempertimbangkan percepatan penerapan sejumlah ketentuan dalam rancangan undang-undang keamanan yang sedang dibahas parlemen.
Ratusan Anak Muda Diamankan Polisi
Kepolisian Italia melaporkan telah membawa 271 anak muda ke kantor polisi setelah kerusuhan di Milan pada Minggu (18/10/2026). Dari jumlah tersebut, 32 orang ditangkap, termasuk 23 anak di bawah umur dan 13 warga negara asing. Selain itu, 28 orang dilaporkan kepada otoritas peradilan.
Kerusuhan juga terjadi di sejumlah kota lain di Italia utara, seperti Bologna, Brescia, Bergamo, dan Turin. Laporan kepolisian yang dirilis pada Minggu menyebut 28 demonstran ditangkap dalam rangkaian bentrokan di kota-kota tersebut.
Peristiwa ini menambah tekanan bagi pemerintah Italia untuk menangani persoalan keamanan sekaligus merespons keresahan masyarakat terkait biaya hidup dan kualitas layanan publik.
Gelombang Protes Meluas di Eropa
Kerusuhan di Italia juga mengingatkan pada gelombang demonstrasi di negara tetangganya, Prancis. Pada Sabtu, ratusan ribu orang dilaporkan turun ke jalan di sejumlah wilayah Prancis untuk memprotes kenaikan biaya hidup dan memburuknya layanan publik.
Meski memiliki konteks masing-masing, rangkaian aksi tersebut menunjukkan bahwa persoalan ekonomi dan pelayanan publik dapat menjadi pemicu ketidakpuasan masyarakat. Namun, aksi protes damai perlu dibedakan dari tindakan penjarahan dan kekerasan yang merugikan warga maupun pelaku usaha.
Pemerintah Italia kini menghadapi dua tantangan sekaligus: memulihkan keamanan di Milan dan merespons tuntutan masyarakat yang melatarbelakangi demonstrasi.
Menurut Anda, apakah penambahan personel keamanan cukup untuk meredakan kerusuhan, atau pemerintah juga perlu memprioritaskan penyelesaian persoalan biaya hidup dan layanan publik?
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







