Jurnal Pelopor – Sebuah video yang memperlihatkan staf Java United melontarkan ucapan yang diduga bernada diskriminatif kepada Shin Tae-yong (STY) viral di media sosial.
Potongan video tersebut kemudian memicu tudingan xenofobia terhadap pihak yang mengucapkan pernyataan tersebut. Salah satu unggahan di media sosial menyebut Achmad Resal, yang disebut sebagai Direktur Teknik Java United, melontarkan ucapan xenofobik kepada STY dan staf kepelatihan Persija lainnya.
Namun, tudingan tersebut berasal dari unggahan media sosial dan perlu dilihat berdasarkan konteks kejadian secara utuh.
Apa Itu Xenofobia?
Xenofobia merupakan istilah yang merujuk pada rasa takut, tidak suka, atau kebencian terhadap orang yang dianggap berbeda. Perbedaan tersebut dapat berkaitan dengan kebangsaan, etnis, budaya, agama, maupun karakteristik lainnya.
Istilah xenofobia memiliki kemiripan dengan rasisme karena sama-sama berkaitan dengan diskriminasi. Bedanya, xenofobia lebih sering digunakan untuk menggambarkan sikap negatif terhadap seseorang karena latar belakang kebangsaan atau budayanya.
Seseorang bahkan dapat menunjukkan xenofobia sekaligus rasisme dalam situasi tertentu.
Mengapa Orang Bisa Lebih Agresif Saat Tertekan?
Di luar kasus yang sedang viral tersebut, pertandingan olahraga memang dapat menghadirkan situasi penuh tekanan. Persaingan, frustrasi, konflik, serta tuntutan hasil bisa membuat emosi seseorang meningkat.
Riset berjudul Emotion Regulation and Aggression: A Systematic Review and Meta-Analysis yang terbit pada 2026 membahas hubungan antara kemampuan mengatur emosi dan agresivitas.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kesulitan dalam mengatur emosi berkaitan dengan kecenderungan agresivitas yang lebih tinggi. Hubungan tersebut lebih kuat pada reactive aggression, yaitu respons agresif yang muncul sebagai reaksi terhadap situasi yang dianggap memicu atau mengancam.
Dalam pertandingan sepak bola, suasana yang panas dan penuh tekanan dapat menjadi salah satu pemicu meningkatnya emosi. Karena itu, kemampuan mengendalikan respons menjadi penting, terutama ketika terjadi konflik di lapangan.
Tekanan Bisa Memengaruhi Respons Otak
Tekanan juga berkaitan dengan cara tubuh merespons ancaman. Mengutip penjelasan IPB University, kondisi penuh tekanan dapat melibatkan amigdala, bagian otak yang berperan dalam mendeteksi ancaman.
Pada saat yang sama, fungsi prefrontal cortex yang berkaitan dengan pengambilan keputusan, penilaian, dan pengaturan emosi dapat menjadi kurang optimal.
Kondisi tersebut sering dikaitkan dengan respons fight or flight, yaitu kecenderungan tubuh untuk menghadapi ancaman atau memilih menghindarinya.
Meski demikian, tekanan tidak otomatis membuat seseorang menjadi agresif. Respons setiap orang dapat berbeda karena dipengaruhi kemampuan regulasi emosi, situasi, pengalaman, serta kondisi masing-masing.
Karena itu, dalam situasi pertandingan yang penuh tekanan, kemampuan mengendalikan emosi tetap menjadi bagian penting untuk mencegah konflik berkembang menjadi tindakan atau ucapan yang merugikan pihak lain.
Baca Juga:
Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria
Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah
Saksikan berita lainnya:







