• About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya
Advertisement
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini
No Result
View All Result
Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya
No Result
View All Result
Home Sejarah

Kereta Cepat ICE Hancur di Jerman, 101 Orang Jadi Korban

Tragedi Eschede terjadi setelah roda kereta ICE pecah saat melaju 200 kilometer per jam, menewaskan 101 orang.

musa by musa
14/09/2026
in Sejarah
0
kereta
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Jurnal Pelopor – Masalah pada sebuah roda kereta api bisa terdengar seperti gangguan teknis biasa. Namun, tragedi Eschede di Jerman pada 1998 membuktikan bahwa kerusakan kecil dapat berubah menjadi kecelakaan mengerikan dengan korban jiwa dalam jumlah besar.

Kecelakaan tersebut melibatkan kereta cepat Intercity-Express atau ICE yang sedang melakukan perjalanan dari Munich menuju Hamburg pada 3 Juni 1998. Saat itu, kereta membawa 287 orang dan melaju dengan kecepatan sekitar 200 kilometer per jam.

Kereta baru meninggalkan Hanover ketika sejumlah penumpang mulai mendengar suara tidak normal. Namun, tidak ada yang mengaktifkan rem darurat. Beberapa saat kemudian, rangkaian masalah teknis tersebut berkembang menjadi kecelakaan besar.

Roda Rusak Memicu Rangkaian Tragedi

Penyebab utama kecelakaan adalah pecahnya pelek logam pada salah satu roda kereta. Komponen tersebut mengalami kelelahan material dan sudah berada dalam kondisi aus.

Pecahan logam dari roda kemudian merusak bagian rel dan wesel sepanjang perjalanan lebih dari enam kilometer. Kerusakan tersebut akhirnya membuat rangkaian kereta keluar dari jalur dan menimbulkan benturan dahsyat.

Gerbong ketiga menghantam sebuah jembatan penyeberangan yang berada di atas jalur kereta. Benturan itu membuat jembatan runtuh dan menimpa delapan gerbong di bagian belakang.

Yang mengerikan, seluruh rangkaian kejadian tersebut berlangsung sangat cepat. Proses tabrakan dan runtuhnya jembatan hanya terjadi dalam waktu sekitar empat detik. Sementara itu, bagian depan kereta terus melaju sebelum akhirnya berhenti sekitar dua kilometer di luar wilayah Eschede.

101 Orang Kehilangan Nyawa

Tragedi tersebut menewaskan 101 orang. Sebanyak 99 penumpang meninggal dunia akibat kecelakaan, baik di lokasi kejadian maupun setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Dua korban lainnya merupakan teknisi yang sedang melakukan pekerjaan perawatan rel di luar kereta. Banyak penumpang lainnya juga mengalami luka-luka akibat kecelakaan tersebut.

Tragedi Eschede kemudian tercatat sebagai salah satu kecelakaan kereta api terburuk dalam sejarah Jerman. Peristiwa itu juga memicu evaluasi besar terhadap sistem roda yang digunakan pada kereta cepat.

Sistem Roda Kemudian Diubah

Salah satu faktor yang menjadi perhatian setelah kecelakaan adalah penggunaan roda berpelek atau rimmed wheel. Jenis roda tersebut sebelumnya dirancang dengan salah satu tujuan untuk mengurangi kebisingan saat kereta melaju.

Setelah tragedi Eschede, Deutsche Bahn kembali menggunakan roda padat. Perubahan tersebut menjadi bagian dari evaluasi keselamatan setelah investigasi menemukan persoalan pada desain dan kondisi roda yang digunakan.

Keluarga korban dan sejumlah penyintas juga mempertanyakan pemeriksaan terhadap roda sebelum kecelakaan. Mereka menilai indikasi kelelahan material seharusnya mendapat perhatian lebih serius.

Persoalan tersebut kemudian berlanjut ke ranah hukum. Pada 2003, pengadilan di Lüneburg menghentikan perkara terhadap tiga insinyur Deutsche Bahn. Mereka masing-masing dikenai denda sebesar 10.000 euro.

Tragedi Eschede akhirnya menjadi pelajaran penting dalam dunia perkeretaapian. Peristiwa itu menunjukkan bahwa komponen yang terlihat kecil seperti roda memiliki peran sangat besar terhadap keselamatan seluruh perjalanan.

Ketika pemeriksaan dan pemeliharaan tidak mampu mendeteksi kerusakan sejak awal, masalah pada satu komponen dapat berkembang menjadi kecelakaan yang melibatkan ratusan orang.

Baca Juga:

Testosteron Rendah, Ancaman bagi Fokus dan Produktivitas Pria

Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah

Cara Mudah Membuat Kremesan Ayam Kriuk di Rumah

Tren Baru! Brave Pink Hero Green Ramai Dipakai di Medsos

 

Saksikan berita lainnya:

Reformasi atau Langkah Mundur? Pengesahan RUU TNI 2025

5 Skandal Hakim Terbesar di Indonesia! Bisakah Prabowo Bersihkan Peradilan?

Tags: #TragediEschede #Eschede #KeretaCepat #ICE #Jerman #KecelakaanKereta #Sejarah #JurnalPelopor
Previous Post

Kecelakaan KM Virgo, 6 Orang Meninggal dan 130 Dicari

Next Post

Cobek Batu Asli atau Semen? Cek dengan 4 Cara Sederhana Ini

musa

musa

Related Posts

lautze
Sejarah

Masjid Tanpa Kubah! Rano Karno Bongkar Sejarah Masjid Lautze

25/02/2026
malioboro
Sejarah

Asal-usul Nama Malioboro, Benarkah dari Jenderal Inggris?

27/12/2025
waisak
Sejarah

Waisak dan Candi Borobudur: Ini Rahasianya!

12/05/2025
hari kartini
Sejarah

Hari Kartini: Dari Pingitan ke Pencerahan Perempuan Indonesia!

21/04/2025
Lorong Sejarah
Sejarah

Lorong Sejarah Kemenhan Dibuka Lagi, Bangkitkan Nasionalisme!

16/04/2025
Next Post
cobek batu

Cobek Batu Asli atau Semen? Cek dengan 4 Cara Sederhana Ini

Jurnal Pelopor | Pelopor Berita Terdepan dan Terpercaya

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Lokal Daerah
  • Redaksi
  • Olahraga
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.